Dolar Bangkit Tipis Jelang The Fed
Dolar AS menguat tipis pada Rabu, bangkit dari posisi terendah dua bulan jelang keputusan suku bunga The Fed. Pada 04:10 ET (08:10 GMT), Dollar Index naik 0,2% ke 96,442 setelah merosot 0,7% sehari sebelumnya ke level terlemah sejak awal Juli. Kenaikan ini lebih mencerminkan reposisi pasar ketimbang perubahan tren besar.
Fokus utama pasar ada pada keputusan FOMC yang diperkirakan memangkas suku bunga 25 bps ke kisaran 4,00%–4,25%. Lebih dari itu, nada pernyataan Jerome Powell dan rilis “dot plot” akan jadi penentu arah berikutnya. Analis ING mengingatkan risiko: jika dot plot tetap hanya mengisyaratkan 50 bps penurunan tahun ini (vs ~70 bps yang sudah diprice-in), tenor pendek AS bisa naik dan dolar berpeluang dapat dukungan sesaat.
Di Eropa, EUR/USD turun 0,2% ke 1,1841 setelah reli ke tertinggi empat tahun pada sesi sebelumnya. Pasar menunggu CPI Zona Euro yang diperkirakan naik 2,1% YoY di Agustus, sedikit di atas 2,0% bulan lalu namun masih dekat target ECB. ECB menjaga suku bunga tetap, sambil membuka opsi pemangkasan bila prospek memburuk. ING melihat area 1,1750–1,1780 sebagai zona beli pada koreksi, dengan 1,1910 sebagai resistance kunci sebelum 1,20.
Di Asia, USD/JPY naik 0,1% ke 146,62 setelah sempat melemah tajam kemarin. Neraca dagang Jepang menyusut lebih kecil dari perkiraan, ekspor turun namun tak sedalam ekspektasi, sementara impor yang lebih lemah menandakan permintaan domestik masih rapuh. Jelang pertemuan BOJ, suku bunga diperkirakan tetap. USD/CNY turun 0,1% ke 7,1095, didukung janji stimulus lanjutan Beijing—mendorong yuan ke level terkuat sejak November 2024.
Komoditas terkait risiko juga bergerak hati-hati: AUD/USD melemah 0,2% ke 0,6671 setelah reli beberapa sesi terakhir. Intinya, pasar valuta tengah “wait and see” menanti The Fed. Nada Powell, peta suku bunga (dot plot), serta data CPI Zona Euro akan menjadi pemicu arah berikutnya—apakah dolar melanjutkan relief bounce, atau kembali tertekan jika sinyal pelonggaran kebijakan lebih dovish dari perkiraan.(ayu)
Sumber: Bloomberg.com