Dolar Menguat Tajam dalam Hampir Empat Pekan, Rival Melemah
Dolar menguat paling besar sejak 30 Juli seiring euforia terkait potensi pemangkasan suku bunga The Fed memudar jelang rilis inflasi penting akhir pekan ini. Seluruh mata uang di kelompok G10 melemah terhadap greenback.
Indeks Bloomberg Dollar Spot naik 0,5% pada Senin (25/8) setelah pada Jumat ditutup turun 0,8% ketika Ketua The Fed Jerome Powell memberi sinyal terkuat bahwa ia siap mengakhiri jeda delapan bulan dalam penurunan suku bunga.
“Saya cenderung percaya, setelah situasi mereda, bahwa tidak ada yang berubah,” tulis Brent Donnelly, presiden Spectra Markets. “Kita masih menunggu Core PCE, NFP, dan CPI. Lalu The Fed akan memutuskan apa yang harus dilakukan, sambil menerapkan filter dovish terhadap data.”
“Artinya, ambang untuk menahan (tidak memangkas) pada September kini tinggi, tetapi tiga dari tiga data yang panas masih bisa membuat skenario tanpa pemangkasan menjadi kenyataan,” lanjutnya.
Para pelau pasar kini menanti laporan akhir pekan ini atas ukuran inflasi inti pilihan The Fed, yang kemungkinan naik tipis bulan lalu.
Pasangan EUR/USD turun hampir 1% ke 1,1607. “Tampaknya gejolak politik Prancis yang melebarkan selisih imbal hasil Prancis vs Jerman turut menekan EUR/USD,” kata Brad Bechtel, kepala FX global di Jefferies. Kondisi pasar libur musim panas “membuat gerakannya tampak lebih besar dari semestinya.”
Pasangan USD/JPY naik 0,6% ke 147,87. Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan pasar tenaga kerja yang ketat diperkirakan akan terus memberi tekanan naik pada upah, mencerminkan pandangannya bahwa inflasi yang stabil akan mengakar.
Pasangan GBP/USD turun 0,6% ke 1,3448. Pasangan AUD/USD melemah 0,2% ke 0,6470.(yds)
Sumber: Bloomberg