Mata Uang Asia Lesu, Dolar Tertahan Terkait Pemangkasan The Fed & Risiko Geopolitik
Mata uang Asia diperdagangkan hati-hati pada Senin (18/8), terbebani turunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga besar oleh Federal Reserve pada September dan memanasnya risiko geopolitik jelang pembicaraan penting AS–Ukraina. Indeks Dolar AS, yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, cenderung stabil pada jam perdagangan Asia setelah melemah di sesi sebelumnya.
Pasar mengurangi spekulasi pelonggaran besar The Fed
Data Indeks Harga Produsen (PPI) AS pekan lalu yang lebih panas dari perkiraan serta angka penjualan ritel yang solid mendinginkan spekulasi pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 50 basis poin pada September, memangkas proyeksi menjadi langkah yang lebih moderat 25 basis poin. Hal ini menurunkan ekspektasi pelonggaran moneter yang cepat, menopang dolar AS dan memberi tekanan pada FX Asia.
Pergerakan regional
Pasangan USD/JPY naik tipis 0,1% pada Senin. Data Jumat menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh lebih baik dari perkiraan pada kuartal kedua.
Di Tiongkok, baik USD/CNY (onshore) maupun USD/CNH (offshore) bergerak nyaris tanpa perubahan. Data pekan lalu menunjukkan produksi industri Juli di bawah ekspektasi, sementara penjualan ritel juga meleset, memicu seruan stimulus pemerintah tambahan.
Pasangan USD/SGD (dolar Singapura) relatif tidak berubah, sementara USD/INR (rupee India) turun 0,2%. USD/KRW (won Korea Selatan) turun 0,4%. AUD/USD (dolar Australia) naik 0,2% pada Senin.
Menanti pembicaraan AS–Ukraina untuk mengukur sentimen risiko
Pada KTT Anchorage pekan lalu, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin mengakhiri pembicaraan tanpa kesepakatan soal Ukraina. Trump, yang sebelumnya mensyaratkan gencatan senjata, bergeser lebih dekat ke posisi Moskow dengan mendukung kesepakatan damai penuh terlebih dahulu.
Investor kini menanti pertemuan Trump dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy dan para pemimpin Eropa di Washington pada Senin. Tanpa hasil yang jelas, pelaku pasar memilih menepi, membuat perdagangan valas Asia tetap lesu sampai ada kejelasan lebih lanjut dari pembicaraan di Washington.(yds)
Sumber: Investing.com