Dolar Menguat, Minyak di Atas US$100 Dorong Arus Safe Haven
Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama pada Senin (9/3) seiring perang di Timur Tengah yang semakin intensif mendorong harga minyak melampaui US$100 per barel dan meningkatkan permintaan terhadap mata uang AS sebagai aset aman.
Indeks Spot Dolar Bloomberg naik hingga 0,7% setelah menguat 1,3% pekan lalu. Kenaikan sempat berkurang setelah Financial Times melaporkan para menteri keuangan G7 akan membahas kemungkinan pelepasan minyak bersama dari cadangan strategis untuk menahan lonjakan biaya energi.
Di kelompok G10, krona Swedia memimpin pelemahan, disusul pound dan krone Norwegia. Di pasar negara berkembang, rand Afrika Selatan mencatat penurunan terbesar di antara mata uang utama emerging markets.
Penguatan dolar ditopang kombinasi sentimen risk-off dan perubahan ekspektasi suku bunga, setelah lonjakan minyak memicu kekhawatiran inflasi global. Pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga Federal Reserve berkurang, sementara dolar juga diuntungkan oleh posisi AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia.
Pergerakan aset safe haven lain tidak seragam: obligasi pemerintah, yen, franc Swiss, dan emas berada di bawah tekanan, sementara dolar justru menguat. Yen kembali melemah 0,4% dan diperdagangkan mendekati level yang berpotensi memicu spekulasi intervensi, dengan perhatian pasar tertuju pada area mendekati 160.
Dari sisi posisi pasar, data menunjukkan ruang penguatan dolar masih terbuka. Hedge fund tercatat menjadi yang paling “tidak bearish” terhadap dolar sejak Januari, dengan posisi bearish sekitar US$12,3 miliar untuk pekan hingga 3 Maret, turun dari US$18,9 miliar pada pekan sebelumnya. Di pasar suku bunga, investor menunda perkiraan pemangkasan suku bunga The Fed seperempat poin penuh hingga September, dibandingkan Juli sebelum perang meletus, dan sebagian pedagang opsi obligasi bahkan bertaruh The Fed tidak memangkas suku bunga tahun ini.(alg)
Sumber: Newsmaker.id