Dolar Menguat, Minyak Tembus $100 Dorong Ekspektasi Inflasi
Indeks dolar melonjak ke sekitar 99,5 pada Senin, 9 Maret, mendekati level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Penguatan terjadi ketika harga minyak menembus US$100 per barel, di tengah kekhawatiran konflik Timur Tengah yang berkepanjangan dapat memicu gangguan pasokan energi global dalam jangka lebih panjang.
Kenaikan harga energi mendorong pasar meninjau ulang arah inflasi. Investor merevisi ekspektasi inflasi sejak pecahnya permusuhan pekan lalu, yang pada gilirannya memperkuat taruhan bahwa Federal Reserve berpotensi menunda rencana pemotongan suku bunga.
Transmisi utamanya jelas: minyak yang lebih mahal meningkatkan risiko inflasi bertahan tinggi, sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih sempit. Ketika prospek suku bunga AS bertahan lebih tinggi lebih lama, daya tarik imbal hasil dolar menguat dan menopang indeks dolar.
Selain faktor suku bunga, dolar juga mendapat dorongan dari arus “flight to safety” seiring perang Iran memasuki minggu kedua tanpa tanda resolusi. Dalam perkembangan politik, Presiden Donald Trump dilaporkan menuntut penyerahan tanpa syarat Teheran, menambah ketidakpastian geopolitik yang menjadi latar pergerakan pasar.
Di sisi lain, Iran disebut menunjuk Mojtab Khamenei untuk menggantikan ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi, yang dipandang menandakan kelompok garis keras tetap memegang kendali. Kombinasi eskalasi konflik dan sinyal kontinuitas politik tersebut memperkuat persepsi risiko terhadap stabilitas pasokan energi serta sentimen global.
Selama sepekan terakhir, dolar disebut mengungguli emas dan aset safe-haven lainnya, sehingga kembali menjadi pusat perhatian pelaku pasar. Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada arah harga minyak, perkembangan konflik di Timur Tengah, serta perubahan ekspektasi suku bunga The Fed yang berpotensi menentukan kelanjutan tren dolar.(asd)
Sumber : Newsmaker.id