Dolar Menguat di Tengah Sentimen Risk-Off: Efek ISM + Energi
Dolar AS kembali menguat di sesi AS hari Senin (2/3) setelah data ISM manufaktur menegaskan aktivitas pabrik masih ekspansif (52,4), tapi tekanan harga makin “on fire” dengan Prices Paid melonjak ke 70,5—tertinggi dalam hampir 3,5 tahun. Kombinasi “ekonomi masih jalan + biaya naik” bikin pasar makin defensif dan memberi napas ke dolar.
DXY bertahan kuat di sekitar 98,4–98,5, atau naik hampir 1% di dekat puncak terkuat sejak akhir Januari.
Tekanan paling terasa di Eropa: EUR/USD melemah 1% ke sekitar 1,1717 karena pasar menilai shock energi dan biaya bisa bikin penurunan suku bunga di Eropa makin sulit.
Di Asia, yen juga melemah: USD/JPY bergerak di sekitar 157,3 karena pasar menghitung biaya energi (yang berat buat Jepang) dan risk premium geopolitik yang belum reda.
Swiss franc ikut tertekan versus dolar; USD/CHF berada di kisaran 0,779. SNB bahkan memberi sinyal lebih siap melakukan intervensi bila gejolak makin mengganggu.
Sementara mata uang risk-sensitive kena imbas: AUD/USD terakhir sekitar 0,7025, dan yuan offshore melemah ke 6,8861 per dolar—pasar makin hati-hati karena energi mahal + ketidakpastian global. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id