Dolar Melemah Tipis, AUD Dekati Puncak 3 Tahun Usai Inflasi Australia Menguat
Indeks dolar versi Bloomberg melemah pada Rabu (25/2) seiring pasar kembali menimbang ketidakpastian perdagangan AS. Pelemahan ini terjadi setelah dua sesi penguatan moderat, sementara investor mencermati arah kebijakan tarif Presiden Donald Trump pasca putusan Mahkamah Agung yang membatasi skema tarif sebelumnya.
Di pasar G-10, dolar Australia (AUD) tampil paling kuat terhadap greenback setelah data inflasi Australia lebih tinggi dari perkiraan. CPI Januari naik 0,4% (m/m) di atas proyeksi 0,3%, sementara inflasi tahunan bertahan di 3,8% (y/y). Ukuran inflasi inti trimmed mean naik menjadi 3,4% (y/y), masih di atas target RBA 2%–3%. Dorongan terbesar datang dari komponen biaya perumahan.
Penguatan data tersebut mendorong AUD/USD naik mendekati area 0,712, menjaga AUD tetap dekat level tertinggi beberapa tahun terakhir. Dampaknya, pasar uang juga kembali menyesuaikan ekspektasi kebijakan RBA, dengan peluang pengetatan pada paruh pertama tahun ini kembali menguat.
Sementara itu, yen Jepang tertinggal di antara mata uang utama, dengan USD/JPY tetap tinggi di kisaran pertengahan 156, di tengah spekulasi bahwa dinamika politik dapat menahan laju pengetatan Bank of Japan. Di Eropa, euro dan pound cenderung menguat tipis, mengikuti perbaikan sentimen global jelang katalis besar dari sektor teknologi (terutama laporan Nvidia) dan perkembangan terbaru isu tarif AS.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id