Dolar Tertahan, Retorika Tarif Trump Melunak
Indeks dolar AS (DXY) menjauh dari level $99 pada Rabu (25/2); levelnya justru masih di kisaran 97,88 (sekitar 97,85–97,99 intraday). Sentimen dolar relatif stabil karena pelaku pasar menilai ketidakpastian dari Gedung Putih—terutama soal tarif—belum cukup untuk membuat investor keluar besar-besaran dari aset berdenominasi dolar.
Dari sisi perdagangan, AS mulai memungut tarif global sementara 10% berbasis Section 122 setelah putusan Mahkamah Agung membatasi skema tarif sebelumnya. Meski Trump sempat mengancam angka 15%, implementasinya masih belum final—dan nada pidato kenegaraannya dinilai tidak langsung “mengunci” eskalasi tarif dalam waktu dekat, sehingga kekhawatiran pasar soal kenaikan tarif yang agresif sedikit mereda.
Sementara itu, faktor kebijakan moneter ikut membentuk bias dolar. Pergeseran ekspektasi suku bunga terjadi setelah data tenaga kerja yang lebih kuat membuat pelaku pasar menilai peluang pemangkasan cepat makin kecil—bahkan probabilitas pemangkasan pada pertemuan Maret sempat dinilai <5% oleh pasar berbasis swap/futures. Kondisi “higher-for-longer” ini cenderung menopang dolar lewat diferensial yield.
Di sisi struktural, wacana terkait Kevin Warsh yang mendorong neraca Fed lebih kecil juga ikut jadi perhatian karena berpotensi mengubah dinamika likuiditas dolar. Namun, sejumlah analis menilai mengecilkan neraca Fed secara material bukan perkara mudah karena kebutuhan cadangan (reserves) di sistem keuangan saat ini masih tinggi. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id