Dolar Tahan Banting, Yen Justru Menguat
Dolar menguat tipis untuk hari kedua, seolah “mengabaikan” pricing pasar yang masih memproyeksikan sekitar tiga kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini. Bloomberg Dollar Spot Index naik 0,1%, sementara yen menguat sekitar 0,4%—namun pelemahan mata uang lain di keranjang indeks tetap menjaga dolar di zona hijau.
Di pasar uang, ekspektasi pemangkasan suku bunga masih cukup agresif: sekitar 64 bps pelonggaran hingga akhir tahun. Sejumlah strategi menilai pricing ini berisiko “kebanyakan duluan”, sehingga membuka ruang untuk rebound dolar bila data berikutnya tidak mendukung skenario pemangkasan sedalam itu.
Sinyal dari pasar opsi juga mulai berubah: tekanan bearish jangka pendek terhadap dolar mereda, terlihat dari front-end risk reversals yang menjadi paling tidak negatif dalam hampir sebulan. Namun di level yang lebih besar, kehati-hatian terhadap dolar belum hilang—investor global masih aktif melakukan lindung nilai (hedging) di tengah volatilitas awal 2026.
Dengan pasar AS sempat libur pada Senin dan minim katalis hingga rilis data penting, investor punya ruang untuk “rapihin posisi”. Di tengah kondisi itu, pelaku pasar menyebut hedge fund terlihat memangkas posisi short dolar, memanfaatkan jeda kalender sebelum agenda besar minggu ini dimulai.
Dari sisi data, laporan tenaga kerja AS yang lebih kuat sebelumnya ikut mengikis argumen “insurance cuts” dalam waktu dekat. Sejumlah analis bahkan melihat pola pemangkasan yang lebih selektif—misalnya mulai Juni lalu lanjut September ketimbang skenario pemangkasan yang terlalu rapat.
Geopolitik ikut menambah bumbu ketidakpastian: putaran baru negosiasi nuklir AS–Iran kembali disorot, sementara Trump juga menyebut sedang berkomunikasi dengan Xi Jinping soal potensi penjualan senjata ke Taiwan. Kombinasi ini menjaga pasar tetap sensitif terhadap headline mendadak.
Arah berikutnya sangat ditentukan oleh dua rilis kunci: FOMC Minutes pada Rabu, 18 Februari 2026 dan data PCE pada Jumat, 20 Februari 2026. Jika Minutes/PCE membuat ekspektasi cut rate “dikurangi”, dolar bisa dapat tenaga tambahan—tapi kalau sinyalnya makin dovish, USD berisiko balik melemah lagi.(Asd)
Sumber : Newsmaker.id