Dolar Tak Banyak Berubah Pasca Laporan NFP Solid
Dolar AS bergerak relatif datar hingga sedikit melemah pada Rabu, setelah pelaku pasar memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve menyusul rilis data tenaga kerja Januari yang jauh lebih kuat dari perkiraan. Pada 15:33 ET, indeks dolar (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama tercatat naik tipis 0,1% ke 96,87.
Data pekerjaan kuat memaksa pasar mengatur ulang ekspektasi rate cut
Data pemerintah menunjukkan Nonfarm Payrolls (NFP) Januari naik 130 ribu, jauh di atas perkiraan 66 ribu. Sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,3% dari 4,4% pada Desember 2025. Data yang solid ini membuat pelaku pasar mengkalibrasi ulang proyeksi pemangkasan suku bunga, karena pasar tenaga kerja tampak masih kokoh dan inflasi dinilai bergerak ke arah yang lebih terkendali.
Penyesuaian ekspektasi tersebut mendorong investor memburu obligasi, yang pada akhirnya ikut mendorong yield Treasury naik. Namun, menariknya, dolar tidak otomatis menguat signifikan. Menurut José Torres (Interactive Brokers), pelemahan dolar justru terjadi karena pasar valuta menilai Presiden Donald Trump kemungkinan tetap akan mendorong biaya pinjaman lebih murah—terlepas dari gambaran ketenagakerjaan yang membaik.
The Fed tahan suku bunga, tapi CPI jadi pemicu berikutnya
Pada pertemuan kebijakan terakhir bulan lalu, The Fed menyebut pasar tenaga kerja “mulai stabil” setelah periode pelemahan. Dengan inflasi yang masih relatif tinggi namun cukup konsisten, bank sentral memutuskan menahan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%.
Meski begitu, penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengingatkan awal pekan ini bahwa kemajuan AI dapat menekan pertumbuhan lapangan kerja dalam beberapa bulan mendatang, walau di sisi lain produktivitas meningkat. Pasar kini menunggu katalis berikutnya: rilis Consumer Price Index (CPI) pada Jumat, yang akan menjadi penentu arah ekspektasi kebijakan moneter.
Analis ING menilai pelemahan dolar belakangan ini tidak murni dipicu lemahnya data AS, tetapi kalender data pekan ini seolah “menguatkan” mood negatif terhadap greenback.
Yen lanjut menguat, Aussie cetak level tertinggi 3 tahun
Yen Jepang masih menjadi faktor penekan dolar, melanjutkan performa kuat sejak kemenangan telak Perdana Menteri Sanae Takaichi dalam pemilu. USD/JPY terakhir turun 0,8% ke 153,08, membuat yen menguat sekitar 2,6% terhadap dolar sejak Jumat lalu.
Di Eropa, euro melemah terhadap dolar, dengan EUR/USD turun 0,2% ke 1,1873. Sementara itu, dolar Australia menjadi salah satu yang paling menonjol di Asia setelah sinyal yang lebih hawkish dari pejabat Reserve Bank of Australia (RBA).
Wakil Gubernur RBA Andrew Hauser menyatakan inflasi masih terlalu tinggi dan suku bunga belum cukup restriktif untuk meredam tekanan harga. Komentar itu muncul hanya sepekan setelah RBA menaikkan suku bunga 25 bps, kenaikan pertama dalam dua tahun, menyusul kembali menguatnya inflasi pada akhir 2025.
Pernyataan Hauser ikut memperkuat spekulasi bahwa RBA masih mungkin menaikkan suku bunga lagi tahun ini, sementara pasar menunggu data inflasi kuartal I untuk mengukur seberapa besar peluang kenaikan lanjutan.(yds)
Sumber: Investing.com