Jelang Jobs Data, Dolar Loyo; Aussie & Euro Menguat
Dolar AS kesulitan menguat di pertengahan pekan karena pelaku pasar memilih “wait-and-see” menjelang rilis data besar AS, terutama Nonfarm Payrolls (NFP) Januari pada hari Rabu (11/2) beserta tingkat pengangguran dan inflasi upah. Tekanan pada greenback menguat setelah data konsumsi AS terbaru melemah dan menambah spekulasi bahwa jalur suku bunga bisa lebih longgar.
Indeks dolar (DXY) bergerak di area 96,6 dan masih berada di bawah tekanan (sekitar -0,20% harian pada data terakhir), mencerminkan pelemahan permintaan terhadap dolar menjelang event risk NFP. Data Retail Sales AS yang flat (0,0%) ikut menekan dolar karena memperkuat narasi perlambatan konsumsi.
Di pasar yen, USD/JPY melanjutkan penurunan. Pasangan ini terakhir terlihat di sekitar 153,25 atau turun 0,74%, pada 07:33 GMT (14:33 WIB), menegaskan penguatan yen saat dolar melemah dan pasar menimbang ulang ekspektasi suku bunga AS.
Pergerakan mata uang utama lain ikut mencerminkan tema yang sama: EUR/USD bertahan di kisaran 1,1914 (sekitar +0,16% pada pembaruan terakhir) karena euro diuntungkan oleh dolar yang loyo, sementara pasar tetap menunggu sinyal dari data tenaga kerja AS untuk menentukan arah berikutnya.
Di blok sterling, GBP/USD berada di sekitar 1,3672 (sekitar +0,21% pada pembaruan terakhir). Pasar menilai sterling masih sensitif terhadap kombinasi faktor domestik Inggris dan arah dolar global yang kini sepenuhnya ditentukan oleh data AS.
Sementara itu, AUD/USD berada di sekitar 0,7073 (sekitar -0,27% pada pembaruan terakhir), setelah sebelumnya sempat didorong sentimen suku bunga Australia yang relatif ketat. Ke depan, rilis NFP akan menjadi pemicu utama: angka yang lebih lemah berpotensi memperpanjang pelemahan dolar, sedangkan kejutan data yang kuat bisa memicu rebound dolar dan menekan mata uang mayor dalam waktu cepat. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id