Dolar Melemah Usai Data; Yen Lanjut “Naik Beruntun”
Dolar AS bergerak cenderung melemah terhadap mata uang utama pada Selasa (10/2), setelah data terbaru memberi sinyal ekonomi AS melambat. Di saat yang sama, yen Jepang makin perkasa dan bersiap mencetak kenaikan dua sesi beruntun, setelah kemenangan pemilu PM Sanae Takaichi.
Data dari Departemen Perdagangan AS menunjukkan penjualan ritel Desember ternyata stagnan (tidak berubah)—padahal ini komponen krusial karena belanja konsumen menyumbang sekitar dua pertiga roda ekonomi AS. Sejumlah rilis data juga masih “kejar tayang” akibat keterlambatan publikasi setelah dampak shutdown pemerintah tahun lalu.
Shaun Osborne (Scotiabank) menilai kondisi ini mendukung narasi bahwa investor mulai rotasi keluar dari aset berdenominasi dolar, menuju safe haven dan pasar berkembang. Menurutnya, ini bukan “Sell America”, tapi lebih ke “Hedge America”—investor tetap pegang eksposur, tapi makin rajin pasang pelindung risiko. Efeknya: dolar ikut melunak dan dinilai masih punya ruang melemah.
Meski begitu, dolar sempat memangkas penurunan dan justru tercatat naik ke 0,768 terhadap franc Swiss.
Fokus investor pekan ini lanjut ke set data AS berikutnya—terutama laporan bulanan tenaga kerja dan inflasi (CPI). Penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, mengatakan potensi penambahan kerja bisa lebih rendah beberapa bulan ke depan, imbas pertumbuhan angkatan kerja yang lebih lambat dan produktivitas yang lebih tinggi. Pasar kini mencoba menilai: pelemahan pasar tenaga kerja ini sudah mereda atau belum.
Osborne menambahkan, angka retail sales yang tadinya diperkirakan “ramah dolar” malah mengecewakan, dan pasar masuk ke momen krusial menjelang rilis payrolls besok—plus data seperti ADP yang bisa saja ikut lembek. Komentar Hassett juga dianggap semacam “alarm halus” bahwa data tenaga kerja bisa mengecewakan, jadi wajar kalau pelaku pasar lebih defensif.
Dollar index (DXY)—yang mengukur dolar terhadap enam mata uang utama—naik tipis 0,07% ke 96,879, setelah sempat menyentuh level terendah satu pekan di 96,789.
Yen Jepang: balik galak. Setelah memutus tren melemah enam hari pada Senin berkat euforia kemenangan Takaichi, yen melanjutkan penguatan. Sempat ada momen ketika yen turun mendekati level 160 per dolar, memicu kekhawatiran potensi intervensi otoritas Jepang untuk menopang yen. Namun arah terbaru menunjukkan yen kembali menguat: naik 0,88% ke 154,48 per dolar, setelah sehari sebelumnya melonjak 0,85%.
Kebijakan Takaichi—yang mencakup pemotongan pajak dan belanja fiskal lebih besar—diperkirakan mengangkat ekonomi dan bursa, dan bisa mendorong Bank of Japan lebih hawkish. Insight Investment menilai pergeseran sikap fiskal itu membuat risiko condong ke pengetatan tambahan, dengan perkiraan suku bunga netral sekitar 1,5%.
Di Eropa, Presiden ECB Christine Lagarde menepis kekhawatiran bahwa dinamika euro-dolar akan menentukan jalur kebijakan ECB, meski pasar tetap memantau. Euro turun 0,17% ke $1,1892 setelah sehari sebelumnya melesat 0,85%.
Mata uang lain: krona Swedia menguat tipis 0,04% vs dolar ke 8,890. Yuan China menguat 0,16% ke 6,9106 per dolar, level tertinggi sejak Mei 2023—mengerek kenaikan tahun berjalan jadi lebih dari 1%, dan sebagian analis memperkirakan yuan masih berpeluang lanjut menguat sepanjang tahun.(yds)
Sumber: Reuters.com