Dolar Loyo: Data Lemah & Isu China Jadi Beban
Indeks dolar AS (DXY) masih tertekan pada Selasa (10/2), meluncur ke area 96,8 atau turun 0,2% sekitar setelah dua sesi sebelumnya sudah jatuh lebih dari 1%. Pasar menangkap pesan yang makin jelas: data AS belakangan ini memberi sinyal ekonomi nggak sekuat ekspektasi, dan itu bikin spekulasi soal pemangkasan suku bunga The Fed kembali naik.
Pemicu terdekat datang dari penjualan ritel yang ternyata lebih lemah dari perkiraan. Belanja konsumen yang mandek di Desember memperkuat narasi bahwa laju pertumbuhan mulai mendingin—sehingga argumen “Fed perlu lebih longgar” terdengar makin masuk akal. Buat dolar, ini biasanya kombinasi yang nggak enak: data melemah → yield berpotensi turun → DXY ikut kebawa.
Di pasar uang, ekspektasi pun bergeser. Jika seminggu lalu skenario dominan masih mengarah ke dua kali pemangkasan suku bunga di 2026, kini peluang untuk tiga kali pemangkasan mulai lebih banyak dihitung. Tapi pasar belum berani all-in, karena putusan finalnya akan sangat ditentukan data berikutnya—terutama laporan tenaga kerja dan inflasi yang akan datang.
Tambahan tekanan datang dari faktor eksternal: muncul kekhawatiran soal minat asing terhadap aset AS, setelah ada laporan bahwa regulator China mendorong lembaga keuangan untuk membatasi kepemilikan obligasi pemerintah AS demi mengurangi risiko konsentrasi dan berjaga dari ketidakpastian kebijakan ekonomi AS. Kalau arus diversifikasi ini membesar, dolar bisa makin sulit cari pijakan. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id