Data PPI & Kevin Warsh : Dolar Dapat “Bensin” Baru
Dolar AS langsung melonjak dan kurva imbal hasil Treasury ikut menanjak setelah Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon ketua Federal Reserve berikutnya—sosok yang dipandang pasar relatif lebih hawkish. Di saat yang sama, kejatuhan logam mulia yang “bersejarah” ikut menekan mata uang komoditas dan makin mengalirkan arus ke dolar.
Bloomberg Dollar Spot Index sempat naik sampai +0,9% sebelum memangkas kenaikan pada hari Jumat (30/1), namun tetap mengarah ke penurunan mingguan sekitar -0,6%. Sepanjang sesi Asia hingga London, dolar sudah lebih dulu menguat karena spekulasi pilihan Warsh—meski secara bulanan indeks ini masih diperkirakan turun ~1,4% di Januari, dengan arus akhir bulan (month-end flows) bikin pergerakan makin “choppy”.
Dari sisi data, rilis Jumat menunjukkan PPI AS lebih panas dari perkiraan: final demand +0,5% m/m (ekspektasi +0,2%). Kombinasi “Warsh hawkish + data harga produsen kuat” jadi paket yang mendorong dolar dan yield, karena pasar reprice peluang kebijakan yang tak terlalu dovish.
Tekanan di FX makin kencang saat emas-perak ambruk tajam pada Jumat—emas turun lebih dari 10% (terbesar sejak awal 1980-an) dan perak terjun 26% (rekor intraday). Efeknya merembet ke mata uang komoditas dan sejumlah pasangan utama: AUD/USD jatuh 1,6% ke 0,6940, USD/CHF naik 1,2% ke 0,7731, dan USD/SEK naik 1,1% ke 8,9050.
Di Kanada, dolar Kanada (loonie) sempat melemah hingga 0,9% ke 1,3617 per USD, terseret data PDB yang lebih lemah: PDB November datar m/m (perkiraan +0,1%) dan +0,6% y/y (perkiraan +0,7%). Di Zona Euro, EUR/USD turun 1% ke 1,1855 meski data menunjukkan pertumbuhan akhir tahun lalu lebih baik dari ekspektasi—namun euro masih mencatat kenaikan sekitar 1% sepanjang Januari.
Sementara itu di Jepang, USD/JPY naik 1,1% ke 154,76 dan menembus 100-DMA (153,98). Data bulanan dari Kementerian Keuangan Jepang mengonfirmasi tidak ada belanja untuk intervensi langsung penguatan yen hingga 28 Januari, dan inflasi inti Tokyo (ex fresh food) melambat ke 2,0% y/y dari 2,3% di Desember—membuat ruang “hawkish surprise” dari Jepang terasa lebih terbatas. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id