Dolar Ambruk karena “Drama Greenland”: Pound & Euro Ngegas
Dolar AS jatuh tajam pada Selasa (20/1) setelah ancaman perang dagang lintas Atlantik soal masa depan Greenland bikin trader mengurangi eksposur ke aset AS. Pada 03:55 ET (08:55 GMT), Dollar Index turun 0,9% ke 98,340, mendekati level terendah dalam hampir dua minggu.
Pelemahan ini jadi hari kedua beruntun, tepat saat investor AS kembali aktif setelah libur Senin. Pemicu utamanya: Donald Trump kembali menghidupkan ancaman tarif terhadap sekutu-sekutu Eropa, seiring upayanya memperkuat kendali AS atas Greenland—wilayah semi-otonom yang merupakan bagian dari Denmark. Trump bahkan menegaskan Greenland “penting untuk keamanan nasional dan dunia”, dan mengatakan ia akan membahas isu ini dengan sejumlah pejabat di World Economic Forum (WEF) Davos pekan ini.
Eropa langsung merapatkan barisan. Para pemimpin Eropa secara luas menolak tuntutan tersebut, dan dijadwalkan membahas respons serta opsi balasan dalam pertemuan darurat pemimpin UE pada Kamis. Menurut analis ING, perkembangan obrolan di Davos akan menentukan apakah UE perlu bersikap keras: apakah tarif AS terhadap Eropa benar-benar berlaku mulai 1 Februari, dan apakah Eropa membalas lewat paket tarif senilai €93 miliar sekitar 6–7 Februari.
Dari sisi data AS, fokus pasar Selasa tertuju pada rilis ADP jobs mingguan. ING memperkirakan angkanya masih di kisaran 10–12 ribu, menggambarkan pasar tenaga kerja AS yang “rekrutmen rendah, tapi belum memburuk”.
Di Eropa, poundsterling ikut naik karena dolar melemah. GBP/USD menguat 0,5% ke 1,3483, meski data menunjukkan pasar kerja Inggris belum membaik: tingkat pengangguran bertahan di 5,1% (tertinggi sejak awal 2021) dan pertumbuhan upah (di luar bonus) melambat ke 4,5%. Kondisi ini membuka peluang Bank of England memangkas suku bunga lagi setelah sebelumnya menurunkan suku bunga 25 bps ke 3,75% pada Desember, dengan rapat berikutnya di awal Februari.
Euro juga menguat. EUR/USD naik 0,6% ke 1,1710, didorong arus keluar dari dolar. Dari Jerman, harga produsen (PPI) Desember turun 2,5% secara tahunan, sesuai perkiraan. Pasar kini menunggu indeks sentimen ZEW Jerman yang diprediksi membaik mendekati level tertinggi satu tahun—tanda optimisme mulai pulih di ekonomi terbesar zona euro.
Di Asia, ceritanya beda. USD/JPY justru naik 0,1% ke 158,16—yen tidak ikut menguat walau dolar melemah. Pasar mencermati pengumuman PM Jepang Sanae Takaichi soal pemilu cepat 8 Februari, yang dinilai bisa membuka ruang stimulus fiskal lebih besar, sementara obligasi pemerintah Jepang justru mengalami tekanan jual. Fokus berikutnya: rapat Bank of Japan pada Jumat, di mana pasar masih terbelah soal peluang kenaikan suku bunga.
Mata uang lain bergerak relatif stabil hingga menguat. USD/CNY turun tipis 0,1% ke 6,9588 setelah PBOC mempertahankan suku bunga acuan pinjaman (sesuai ekspektasi), dan yuan tetap dekat level terkuatnya dalam 2,5 tahun. Di sisi komoditas FX, AUD/USD naik 0,6% ke 0,6746, sementara NZD/USD melesat 0,9% ke 0,5841.(yds)
Sumber: Newsmaker.id