Minyak Melemah, Trump Mendadak “Ngerem” soal Greenland & Iran
Harga minyak jatuh pada Kamis, membalikkan kenaikan dua hari sebelumnya, setelah Presiden AS Donald Trump meredakan nada soal Greenland dan Iran—membuat premi risiko geopolitik di pasar energi ikut “kempes”. Di saat yang sama, pelaku pasar kembali menatap faktor klasik: pasokan yang longgar dan stok AS yang menebal.
Pada pukul 13.01 GMT, Brent turun $1,25 (1,92%) ke $63,99/barel, sementara WTI kontrak Maret melemah $1,24 (2,05%) ke $59,38/barel. Padahal sehari sebelumnya, harga sempat menguat setelah Kazakhstan menghentikan produksi di ladang Tengiz dan Korolev akibat gangguan distribusi listrik.
Arah pasar berubah ketika Trump menegaskan tidak akan memakai kekuatan untuk mengambil Greenland dan menarik ancaman tarif ke sekutu Eropa. Dari sisi Iran, Trump juga menyebut berharap tidak ada aksi militer lanjutan, meski menegaskan AS akan bertindak bila Teheran kembali mengaktifkan program nuklirnya. Intinya: risiko ekstrem mereda, dan pasar langsung memangkas “biaya ketakutan” yang sempat menempel di harga minyak.
Bukan cuma itu. Trump juga mengatakan peluang kesepakatan untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina “cukup dekat”. Jika konflik mereda, pasar mulai menghitung kemungkinan sanksi AS terhadap Rusia bisa dilonggarkan—yang berarti pasokan Rusia lebih lancar dan gangguan suplai global makin mengecil. Itu jadi tekanan tambahan buat harga minyak.
Dari sisi fundamental, IEA memang menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026, yang membuat estimasi surplus tahun ini sedikit menyempit. Tapi pasar tetap melihat gambaran besar: suplai masih cenderung longgar, sehingga kenaikan harga butuh katalis yang lebih kuat daripada sekadar headline.
Sementara itu, data persediaan kembali jadi rem utama. Sumber pasar mengutip API bahwa stok minyak mentah AS naik 3,04 juta barel dan stok bensin naik 6,21 juta barel pekan lalu, sementara distillate turun tipis. Dengan stok yang menumpuk di pasar yang sudah dinilai “kelebihan pasokan”, reli minyak jadi gampang patah.
Kesimpulannya: meredanya risiko Greenland–Iran bikin harga kehilangan “bahan bakar” dari sisi geopolitik, sementara stok AS yang naik menegaskan pasar masih berat di sisi suplai. Hasilnya, minyak kembali turun dan area $60/barel lagi-lagi jadi medan tarik-menarik utama.(yds)
Sumber: Reuters.com