Minyak Turun Ditengah Prospek Pasokan dan Peningkatan Stok AS
Harga minyak turun tipis pada Kamis (22/1) setelah menguat di dua sesi sebelumnya, seiring investor menimbang ulang arah pasokan–permintaan. Beban tambahan datang dari laporan yang menunjukkan stok minyak mentah dan bensin AS naik pekan lalu, membuat ruang kenaikan harga jadi lebih sempit.
Pada pukul 07.49 GMT, Brent turun 28 sen (0,43%) ke $64,96/barel, sementara WTI kontrak Maret turun 19 sen (0,31%) ke $60,43/barel. Sebelumnya, harga sempat terangkat setelah Kazakhstan menghentikan produksi di ladang Tengiz dan Korolev akibat gangguan distribusi listrik.
Sentimen juga dipengaruhi drama geopolitik. Trump meredakan nada soal Greenland—menegaskan tidak akan memakai kekuatan dan menarik ancaman tarif ke Eropa. Pasar menilai tensi dagang AS–Eropa yang mendingin itu positif untuk ekonomi global dan permintaan minyak. Namun di sisi lain, risiko Iran belum benar-benar hilang: Trump berharap tidak ada aksi militer lanjutan, tapi menegaskan AS akan bertindak bila Teheran melanjutkan program nuklir.
Di tengah meredanya isu Greenland dan peluang eskalasi Iran yang mengecil, sebagian analis menilai minyak berpotensi bertahan di sekitar $60/barel. Trump juga menyinggung peluang “cukup dekat” menuju kesepakatan untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina. Jika perang berakhir, sanksi AS terhadap Rusia bisa dilonggarkan, pasokan global bisa lebih lega, dan itu berpotensi menekan harga.
Dari sisi fundamental, IEA menaikkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026, yang berarti surplus pasokan tahun ini diperkirakan sedikit menyempit—meski pasar tetap rentan jika suplai terus longgar. Kunci lain ada di data persediaan AS: sumber pasar mengutip API bahwa stok minyak mentah naik 3,04 juta barel dan stok bensin naik 6,21 juta barel, sementara distillate turun tipis.
Intinya: kenaikan stok dan kekhawatiran pasar yang masih “kebanyakan suplai” jadi rem utama. Selama persediaan AS terus tebal dan suplai global longgar, reli minyak cenderung cepat mentok—meski headline geopolitik masih bisa bikin harga berayun sewaktu-waktu.(yds)
Sumber: Newsmaker.id