Venezuela Bikin Tarif Tanker Meledak—Harga Minyak Ikut Geser?
Biaya angkut minyak lewat kapal tanker tiba-tiba melonjak dan efeknya menyebar ke banyak rute dunia. Pemicunya: AS mulai lebih “mengendalikan” arus minyak Venezuela, sehingga perdagangan yang dulu sering ditangani kapal-kapal tua “abu-abu” kini bergeser ke tanker yang lebih resmi. Akibatnya, perebutan kapal makin ketat dan tarif pun terbang
Para pemilik kapal sekarang lebih memilih parkir tanker di sekitar US Gulf karena peluang order dinilai lebih besar. Dampaknya, kapal-kapal yang biasanya standby di area Timur Tengah atau dekat hub produksi besar malah bergeser ke Amerika. Saat kapal terkumpul di satu wilayah, rute lain otomatis kekurangan kapal—dan tarif rute jauh seperti ke Asia ikut naik.
Lonjakan tarif paling terasa di rute panjang ke China. Pendapatan harian kapal untuk rute Timur Tengah–China dilaporkan hampir tiga kali lipat tahun ini, sementara rute US Gulf–China juga naik tajam. Bahkan rute Karibia–US Gulf ikut cetak level tertinggi dua tahun, karena arus minyak di kawasan Amerika jadi rebutan.
Ada contoh yang menggambarkan betapa “panasnya” pasar ini: sebuah tanker kosong rela menempuh perjalanan sekitar 45 hari dari Timur Tengah menuju Amerika untuk menunggu order di US Gulf. Gerakan seperti ini bikin para penyewa kapal (charterers) makin agresif menawarkan tarif lebih tinggi agar dapat kapal cepat untuk pengiriman jangka dekat.
Karena kapal-kapal banyak tersedot ke Amerika, pengirim minyak di rute non-Amerika juga ikut menaikkan bayaran demi mengamankan kapal. Bahkan ada kesepakatan pengiriman minyak Kuwait ke Singapura yang ditutup di level tarif tertinggi tahun ini, menunjukkan tekanan tarif mulai merambat ke Asia.
Prediksi harga oil selanjutnya: kenaikan tarif tanker bisa jadi “bantalan” karena biaya logistik naik, sehingga harga minyak cenderung lebih sulit jatuh dalam. Namun ruang naik tetap dibatasi kalau pasokan global terasa longgar. Dalam jangka dekat, harga kemungkinan bergerak sideways: Brent berpotensi bertahan di sekitar $64–$67, sementara WTI di kisaran $59–$62. Jika gangguan suplai bertambah atau tanker makin langka, Brent bisa menguji $68–$70; tapi kalau stok naik dan pasar kembali fokus ke surplus pasokan, reli biasanya cepat tertahan.(asd)
Sumber : Newsmaker.id