Harga Minyak Stabil, Pasar Respon Positif Setelah Trump Batalkan Ancaman Tarif
Harga minyak sedikit berubah pada perdagangan Asia hari Kamis(22/1) setelah Presiden AS Donald Trump mundur dari ancaman untuk mengenakan tarif pada negara-negara Eropa terkait Greenland. Keputusan ini membantu meredakan ketegangan geopolitik dan memperbaiki sentimen pasar. Pada pukul 22:07 ET, kontrak berjangka minyak Brent naik tipis 0,1% menjadi $65,31 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,2% menjadi $60,74 per barel.
Kenaikan kecil ini datang setelah dua sesi berturut-turut di mana harga minyak terdorong oleh kekhawatiran terkait gangguan pasokan. Salah satunya adalah penghentian sementara produksi minyak dari ladang Tengiz dan Korolev di Kazakhstan, yang dikelola oleh produsen OPEC+ pada hari Minggu. Gangguan pasokan ini turut memberikan dorongan kepada harga minyak meskipun ada peningkatan stok di AS.
Trump membatalkan ancaman tarif terhadap Eropa setelah menyatakan bahwa kerangka kesepakatan dengan Denmark terkait Greenland sudah tercapai. Hal ini meredakan ketegangan antara AS dan Eropa yang sempat memunculkan kekhawatiran akan memburuknya hubungan internasional dan berdampak negatif pada pertumbuhan global dan permintaan energi.
Meskipun ketegangan geopolitik mereda, pasar minyak tetap waspada dengan perkembangan lainnya. Stok minyak mentah AS dilaporkan meningkat sebesar 3,04 juta barel pada pekan yang berakhir 16 Januari, setelah lonjakan lebih dari 5 juta barel pada pekan sebelumnya, menurut data dari American Petroleum Institute (API). Kenaikan stok ini menunjukkan adanya kelebihan pasokan di pasar.
Di sisi permintaan, harga minyak didukung oleh revisi perkiraan pertumbuhan permintaan global oleh Badan Energi Internasional (IEA), yang menaikkan proyeksi untuk tahun 2026. Namun, IEA juga memperingatkan bahwa pasar minyak masih akan mengalami surplus besar hingga 2026, yang dapat membatasi potensi lonjakan harga dalam jangka pendek. (az)
Sumber: Newsmaker.id