Minyak Naik, China Siap Gas Dukungan 2026
Harga minyak mentah menguat jelang akhir tahun, ditopang harapan permintaan yang lebih baik dari China dan reli komoditas yang ikut mengangkat sentimen pasar. Brent kembali bergerak di atas level $61 per barel, sementara WTI berada di kisaran $57 per barel.
Kenaikan ini muncul setelah China memberi sinyal dukungan berkelanjutan untuk pertumbuhan tahun depan. Dalam pernyataan Kementerian Keuangan China pada Minggu, Beijing menyebut akan memperluas basis belanja fiskal pada 2026, mengindikasikan pemerintah masih siap mendorong ekonomi lewat stimulus dan belanja.
Di sisi geopolitik, minyak tetap naik meski AS meningkatkan upaya mengakhiri perang di Ukraina—yang secara teori bisa membuka jalan berkurangnya pembatasan terhadap aliran minyak Rusia. Presiden Donald Trump mengatakan ia membuat “banyak kemajuan” dalam pembicaraan dengan Presiden Ukraina, sementara Volodymyr Zelenskiy menyebut kerangka perdamaian sudah “90% disepakati”, walau masih ada ganjalan, termasuk soal masa depan wilayah Donbas.
Namun, secara tren bulanan, minyak masih tertekan. Pada Desember, harga minyak masih berada di jalur penurunan bulanan kelima berturut-turut, yang akan menjadi rentetan penurunan terpanjang dalam lebih dari dua tahun. Tekanan datang dari kekhawatiran pasar terhadap potensi surplus pasokan global, setelah kenaikan suplai dari kartel OPEC+ (termasuk Rusia) serta peningkatan produksi dari negara di luar kelompok tersebut.
China sebagai importir minyak terbesar dunia tetap jadi kunci arah permintaan. Ekonominya masih menghadapi hambatan dari pelemahan sektor properti dan tekanan eksternal, termasuk friksi dagang dengan AS. Meski begitu, penimbunan (stockpiling) minyak China diperkirakan berlanjut tahun depan dan bisa membantu menyerap surplus. Pada pukul 7:51 pagi di Singapura, Brent kontrak Februari naik 0,8% menjadi $61,15 per barel, sedangkan WTI kontrak Februari naik 0,8% menjadi $57,18 per barel.(asd)
Sumber : Newsmaker.id