Serangan Ukraina ke Pelabuhan Rusia Bikin Minyak Naik Lagi
Harga minyak dunia ditutup menguat lebih dari 2% pada perdagangan Jumat (14/11) setelah pelabuhan Novorossiisk di Rusia menghentikan ekspor minyaknya akibat serangan drone Ukraina. Serangan tersebut mengenai depo minyak, gedung apartemen, dan sebuah kapal di pelabuhan energi utama Rusia itu, dan dilaporkan melukai tiga awak kapal. Kabar terhentinya ekspor langsung memicu kekhawatiran baru soal pasokan global, karena pelabuhan ini merupakan salah satu titik penting pengiriman minyak Rusia dan Kazakhstan.
Pada penutupan, kontrak berjangka minyak Brent naik USD 1,38 atau sekitar 2,19% ke level USD 64,39 per barel. Sementara itu, WTI AS menguat USD 1,40 atau 2,39% ke sekitar USD 60,09 per barel. Secara mingguan, Brent masih mencatat kenaikan sekitar 1,2% dan WTI naik sekitar 0,6%. Analis menyebut, serangan kali ini dinilai lebih “mengena” dibanding serangan-serangan sebelumnya, sehingga reaksi pasar terlihat lebih besar.
Pelabuhan Novorossiisk sendiri menghentikan sementara ekspor minyak yang setara dengan sekitar 2,2 juta barel per hari, atau kurang lebih 2% dari pasokan global. Perusahaan pipa minyak Rusia, Transneft, juga menangguhkan sementara aliran minyak ke pelabuhan tersebut. Di saat yang sama, Ukraina mengklaim telah menghantam kilang minyak di wilayah Saratov dan fasilitas penyimpanan bahan bakar di Engels. Investor kini mencoba menghitung seberapa besar dampak rangkaian serangan ini terhadap pasokan Rusia dalam jangka menengah, terutama jika intensitas serangan tetap tinggi.
Selain faktor militer, pasar juga memantau efek sanksi Barat terhadap minyak Rusia. AS melarang transaksi dengan raksasa energi Lukoil dan Rosneft setelah 21 November sebagai bagian dari upaya menekan Moskow. Akibat sanksi ini, jutaan barel minyak Rusia tertahan di kapal tanker karena proses bongkar muat di pelabuhan menjadi lebih lambat. Kondisi ini menambah lapisan ketidakpastian baru bagi pasar minyak: di satu sisi ada ancaman gangguan pasokan akibat perang dan sanksi, di sisi lain pasar masih bergulat dengan isu potensi kelebihan pasokan global.(yds)
Sumber: Reuters.com