Harga Minyak Lesu, Pasokan Jadi Sorotan
Harga minyak kembali melemah seiring investor mengkaji data persediaan AS yang bervariasi dan prospek kelebihan pasokan yang bertahan.
Minyak WTI Desember turun 1,6% dan ditutup di $59,60 per barel di bawah level kunci $60, sementara Brent Januari merosot 1,43% ke $63,52. Sejak pekan lalu, harga bolak-balik dalam rentang sempit sekitar $2.
Tekanan meningkat setelah laporan pemerintah AS menunjukkan stok minyak mentah naik 5,2 juta barel pada pekan yang berakhir 31 Oktober—kenaikan terbesar sejak Juli, meski lebih kecil dari perkiraan kelompok industri yang sudah banyak diperhitungkan pasar. Di sisi lain, stok produk (BBM) justru turun di berbagai segmen, menandakan permintaan tetap tangguh dan membatasi momentum pelemahan.
Menurut Matt Smith dari Kpler, kenaikan impor dan aktivitas kilang yang rendah karena perawatan musiman mendorong penumpukan stok, diperparah oleh ekspor minyak mentah AS yang lebih rendah dari data EIA. Secara tahunan, WTI sudah turun sekitar 17% di tengah kenaikan produksi OPEC+ dan negara non-anggota yang memupuk kekhawatiran glut global. Bos Mercuria memperkirakan kelebihan pasokan hingga 2 juta bph pada 2026.
Dari sisi arus fisik, Reliance Industries India biasanya menjadi pembeli besar—justru menjual kargo minyak Irak ke kilang Eropa, di tengah sorotan ke perilaku kilang India setelah AS menjatuhkan sanksi pada dua produsen terbesar Rusia. Perkembangan ini menambah ketidakpastian arus pasokan dan rute dagang, membuat pasar tetap berhati-hati.
Sumber: Bloomberg.com