Emas Melemah, Pasar Cermati Dinamika AS–Iran dan Suku Bunga
Harga emas bergerak turun pada Rabu (15/4) setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam satu bulan, ketika investor menilai sinyal terbaru terkait situasi AS–Iran dan implikasinya terhadap prospek suku bunga.
Emas spot turun 0,9% ke US$4.796,56 per ons, setelah sebelumnya mencapai level tertinggi sejak 18 Maret pada sesi yang sama. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni turun 0,6% ke US$4.820,50.
Analis Kitco Metals Jim Wyckoff menilai pergerakan itu mencerminkan aksi ambil untung yang wajar setelah harga menembus puncak semalam. Ia menambahkan, dalam beberapa sesi terakhir emas justru menguat saat minat terhadap assert berisiko membaik dan melemah saat terjadi episode risk aversion, bergerak berlawanan dengan peran tradisionalnya sebagai aset lindung nilai. Fokus pelaku pasar, menurutnya, kini lebih tertuju pada implikasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan tekanan inflasi.
Dari sisi geopolitik, Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang berpotensi segera dilanjutkan dan berujung kesepakatan, sembari menyebut pasar perlu “menantikan dua hari yang luar biasa.” Di saat yang sama, pasukan AS yang menerapkan blokade dilaporkan memutar balik kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan Iran.
Harga minyak menguat seiring pengapalan melalui Selat Hormuz masih terbatas. Empat puluh lima hari setelah Garda Revolusi Iran menyatakan selat itu ditutup, lalu lintas melalui jalur tersebut disebut tetap tidak pasti meski ada gencatan senjata dua minggu.
Dari jalur kebijakan moneter, Presiden Chicago Fed Austan Goolsbee pada Selasa mengatakan Federal Reserve mungkin perlu menunggu hingga 2027 untuk memangkas suku bunga jika fase harga minyak tinggi yang berkepanjangan akibat perang Iran menunda kemajuan inflasi menuju target 2% bank sentral. Pasar saat ini menilai peluang pemangkasan suku bunga AS tahun ini sebesar 31%.
Bagi emas, transmisi utamanya tetap berada pada suku bunga riil dan biaya peluang. Kenaikan suku bunga cenderung menekan emas karena meningkatkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil, sehingga dapat mengimbangi daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi. Ke depan, pasar akan memantau kelanjutan diplomasi AS–Iran, dinamika Selat Hormuz yang mempengaruhi harga energi, serta sinyal bank sentral terkait lintasan suku bunga.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id