Oil Spike Picu Inflasi, Dolar Menguat, Emas Tergelincir
Harga emas turun, tertekan penguatan dolar AS dan kekhawatiran suku bunga akan bertahan lebih tinggi, ketika perang di Timur Tengah memasuki pekan kedua dan harga minyak melonjak tajam.
Emas batangan sempat merosot hingga sekitar 3% ke area $5.015 per ons sebelum memangkas sebagian kerugian. Di saat yang sama, minyak melesat—kontrak Brent bahkan sempat mendekati $120 per barel sebelum kenaikannya mereda—setelah produsen di kawasan Teluk Persia mengurangi output dan perang AS–Israel dengan Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Indeks pengukur dolar juga sempat naik tajam.
Tekanan pada emas muncul karena reli minyak menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi di AS, sehingga meningkatkan peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga tetap tinggi lebih lama—bahkan membuka ruang skenario pengetatan ulang. Biaya pinjaman yang lebih tinggi, ditambah dolar yang lebih kuat, umumnya negatif bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, emas juga sempat menjadi sumber likuiditas ketika aksi jual di pasar saham global semakin dalam.
“Dalam periode stres pasar yang dipicu geopolitik, investor kadang menjual aset seperti emas untuk mengumpulkan kas,” kata Christopher Wong, strategist di Oversea-Chinese Banking Corp. Menurutnya, setelah fase itu berlalu, ketidakpastian geopolitik biasanya tetap menopang permintaan safe haven ketika harga turun (buy on dip).
Perang di Timur Tengah kini memasuki hari ke-10. Pada akhir pekan, Teheran memilih pemimpin tertinggi baru dan melanjutkan serangan di kawasan Teluk Persia, sementara Israel menyerang depot bahan bakar di ibu kota Iran serta mengancam jaringan listrik Republik Islam tersebut. Serangan terhadap infrastruktur energi dan tersendatnya pelayaran di Selat Hormuz—jalur yang biasanya menyalurkan sekitar seperlima minyak dunia—ikut mendorong kenaikan harga minyak dan gas alam.
Ed Meir, analis di Marex, menilai akhir konflik yang relatif cepat berpotensi melemahkan dolar dan mendorong reli emas. Sebaliknya, perang yang berkepanjangan cenderung mengangkat dolar dan yield Treasury karena pasar mengantisipasi inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi. Ia menyimpulkan saat ini ada waktu untuk beli, waktu untuk jual, dan waktu untuk menunggu—dan “menunggu” adalah pilihan yang paling tepat untuk sementara.
Meski pergerakan beberapa hari terakhir cenderung berombak dan momentum naik tertahan, emas masih menguat sekitar 18% sepanjang tahun ini. Gejolak perdagangan global dan geopolitik, serta kekhawatiran terhadap independensi The Fed, masih mendukung aset safe haven. Pembelian bank sentral yang tetap tinggi juga menopang tren, termasuk People’s Bank of China yang menambah cadangan emas pada Februari dan memperpanjang tren pembelian selama 16 bulan.
Pada perdagangan New York, emas spot turun 1,7% ke $5.083,98 per ons, Perak turun 0,6% ke $84,03, sementara platinum dan palladium juga melemah. Indeks dolar Bloomberg naik 0,2% setelah menguat 1,3% pekan lalu.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id