Emas Ditutup Turun Meski Konflik Iran Memanas
Harga emas ditutup melemah pada Kamis (5/3) setelah penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi mengalahkan dorongan safe haven dari eskalasi konflik Iran. Spot gold turun 1,2% dan berada di $5.076,59 per ons pada penutupan sesi utama, setelah sempat menyentuh puncak intraday $5.194,59 sebelum berbalik turun.
Di pasar berjangka, gold futures AS juga berakhir turun 1,1% di $5.078,70 per ons. Tekanan datang dari kombinasi dolar yang menguat dan yield yang naik, karena emas—sebagai aset non-yielding—cenderung kurang menarik saat imbal hasil obligasi meningkat.
Kenaikan harga energi akibat perang ikut memunculkan kekhawatiran inflasi, yang membuat pasar menilai ruang pemangkasan suku bunga The Fed bisa lebih sempit. Dolar AS menguat dan yield Treasury naik, sementara pasar juga menanti data ekonomi lanjutan (termasuk laporan ketenagakerjaan AS) untuk membaca arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Dari sisi makro, pasar kembali menilai risiko inflasi energi sebagai faktor kunci. Lonjakan minyak akibat eskalasi konflik Iran memperbesar peluang tekanan harga merembet ke biaya transportasi dan rantai pasok, sehingga ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed menjadi lebih hati-hati. Kondisi ini biasanya negatif untuk emas karena suku bunga tinggi meningkatkan opportunity cost memegang aset non-yielding, sementara dolar yang menguat membuat emas lebih mahal bagi pembeli non-USD.
Namun dari sisi geopolitik, permintaan safe haven belum hilang—hanya “kalah suara” sementara oleh faktor dolar dan yield. Selama ketidakpastian seputar keamanan jalur energi (terutama Hormuz) dan risiko eskalasi tetap tinggi, emas masih berpotensi mendapat bid ketika pasar kembali masuk mode risk-off. Artinya, pergerakan emas ke depan akan sangat headline-driven: setiap sinyal meredanya konflik bisa menekan premi risiko emas, tetapi eskalasi baru atau gangguan pasokan energi yang lebih parah bisa cepat menghidupkan kembali dorongan beli di logam mulia.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id