Emas Menguat, Pasar Menimbang Risiko Tarif AS dan Ketegangan Iran
Harga emas menguat pada hari Rabu, mendorong meningkatnya permintaan aset aman di tengah mengancam tarif impor AS dan risiko geopolitik di Timur Tengah. Emas sempat naik hingga sekitar 1%, memangkas kerugian setelah turun 1,6% pada sesi sebelumnya, seiring melemahnya dolar AS dan pasar yang mencakup perkembangan militer AS menjelang kelanjutan pembicaraan nuklir dengan Iran pada pekan ini.
Dukungan terhadap emas juga datang dari kebijakan perdagangan AS. Tarif impor menyeluruh 10% resmi berlaku sejak Selasa setelah putusan Mahkamah Agung membatalkan skema tarif “resiprokal” sebelumnya. Meski Presiden Donald Trump mengancam menaikkan tarif menjadi 15%, hingga kini belum ada arahan resmi yang menetapkan kenaikan tersebut. Pemerintah AS juga menyiapkan investigasi keamanan nasional atas impor sejumlah komoditas seperti baterai dan bahan kimia industri, yang dinilai dapat membuka pintu tarif tambahan.
Di sisi fiskal, pasar juga mencermati potensi dampak pengajuan refund tarif oleh sebagian importir. Sejumlah analis menilai proses refund berdampak pada defisit anggaran AS, pergerakan dolar, hingga pasar obligasi pemerintah—kondisi yang memperkuat narasi “debasement trade”, ketika investor mengalihkan portofolio dari obligasi dan mata uang ke aset keras seperti emas. Setelah koreksi tajam di awal bulan, emas dinilai kembali menemukan pijakan di atas $5.000/oz dan sudah memulihkan lebih dari separuh penurunan dari aksi penjualan ekstrem di pergantian bulan.
Namun, faktor suku bunga tetap menjadi penyeimbang. Prospek The Fed menahan suku bunga dalam waktu dekat dapat menjadi hambatan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan hasil yang tidak seimbang. Presiden Fed Boston Susan Collins menyatakan kemungkinan suku bunga akan tetap tidak berubah “untuk beberapa waktu” menyusul membaiknya data pasar tenaga kerja AS, sejalan dengan risalah rapat The Fed Januari yang menunjukkan kehati-hatian untuk memangkas suku bunga.
Pada pukul 11.03 waktu Singapura, emas naik 0,9% menjadi $5.187,52/oz. Perak melonjak 2,9% menjadi $89,67, sementara platinum naik 2,7% dan paladium naik 1,2%. Indeks dolar spot Bloomberg turun 0,2%, juga memberi ruang bagi penguatan logam mulia.(asd)
Sumber : Newsmaker.id