Emas Jatuh di Bawah $4900 Saat Libur Imlek
Harga emas turun ke bawah US$4.900 per ons, ketika sebagian besar wilayah Asia—yang merupakan kawasan dengan konsumsi terbesar—tutup karena libur Tahun Baru Imlek. Perak juga ikut melemah.
Emas spot sempat anjlok hingga 3% pada Selasa, menyentuh level intraday terendahnya dalam lebih dari sepekan. Pergerakan ini menyusul penurunan 1% pada sesi sebelumnya.
Logam mulia telah berada dalam reli kuat selama beberapa tahun terakhir yang makin cepat sepanjang Januari, sebelum terjadi aksi jual mendadak di akhir bulan tersebut. Dari puncak di atas US$5.595 per ons, emas berbalik turun ke sekitar US$4.400 hanya dalam dua hari. Setelah itu harga kembali pulih sebagian, meski volatilitas masih tinggi.
Permintaan ritel yang solid di China dan India—dua pasar terbesar untuk emas fisik—menjadi penopang utama harga dalam beberapa bulan terakhir.
Data impor India menunjukkan impor emas dan perak yang nyaris mendekati rekor hingga Januari. Negara tersebut mengimpor emas lebih dari US$12 miliar selama periode itu, menjadi total bulanan tertinggi ketiga sepanjang sejarah. Impor perak melonjak hingga melampaui US$2 miliar.
Di sisi lain, banyak bank—termasuk BNP Paribas SA, Deutsche Bank AG, dan Goldman Sachs Group Inc.—memproyeksikan harga emas akan kembali melanjutkan tren naik, karena faktor-faktor yang menopang kenaikan stabil emas diperkirakan tetap bertahan.
“Kami masih melihat dua faktor makro utama yang mendukung emas: inflasi dan pelemahan nilai dolar,” tulis para analis Jefferies, termasuk Fahad Tariq, dalam sebuah catatan, sambil menaikkan proyeksi harga emas tahun 2026 menjadi US$5.000 per ons dari sebelumnya US$4.200. Investor dan bank sentral yang khawatir dengan faktor-faktor ini, kata mereka, “pada dasarnya hanya punya satu pilihan: aset keras (hard assets).”
Arah suku bunga AS tetap menjadi sorotan setelah data inflasi pada Jumat tercatat lebih rendah dari perkiraan. Pasar AS akan kembali buka pada Selasa malam setelah libur Presidents’ Day, dan pelaku pasar akan mencermati risalah (minutes) rapat The Fed bulan Januari—yang dijadwalkan rilis Rabu—untuk membaca ulang kondisi ekonomi.
Sementara itu, perak sempat jatuh hingga 5,4% sebelum memangkas sebagian penurunannya. Logam putih ini memang dikenal lebih liar dibanding emas, karena ukuran pasarnya lebih kecil dan likuiditasnya lebih rendah. Meski begitu, pergerakan terbaru—yang disebut sebagai volatilitas tertinggi sejak 1980—mencolok karena skala dan kecepatannya.
Pada pukul 09.16 pagi waktu New York, emas spot turun 1,9% menjadi US$4.895,62 per ons. Perak melemah 3,18% ke US$74,17. Platinum dan palladium juga turun. Indeks Bloomberg Dollar Spot—pengukur kekuatan dolar AS—naik 0,25%.(yds)
Sumber: Bloomberg.com