Emas Terseret Dolar, Tapi Belum Jatuh Bebas
Harga emas kembali melemah untuk hari kedua, terseret penguatan dolar dan suasana risk-on jelang rilis risalah rapat The Fed. Dalam perdagangan Asia yang tipis akibat libur Tahun Baru Imlek, emas sempat menyentuh area $4.922/oz sebelum bertahan di kisaran $4.948–$4.950/oz (turun sekitar ~1%). Tekanan juga menjalar ke logam lain: perak turun sekitar 2,7%.
Meski turun, pelemahan emas masih terlihat “tertahan” karena pasar belum berani memasang taruhan besar satu arah. Dolar AS memang menguat (indeks dolar naik sekitar 0,2%), namun ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed belum hilang—sehingga sisi bawah emas tetap punya bantalan, apalagi ketika volatilitas mudah terpancing oleh volume yang tipis.
Katalis utama pekan ini adalah FOMC Minutes yang dijadwalkan rilis Rabu, 18 Februari (jadwal resmi The Fed), lalu disusul data inflasi favorit The Fed, PCE pada Jumat, 20 Februari. Di tengah itu, pasar juga mengawasi data aktivitas seperti Empire State Manufacturing Survey yang rilis hari ini (17 Februari) sebagai pemanasan arah dolar dan yield.
Di luar data, faktor geopolitik tetap jadi “penahan” penurunan emas: pasar memantau putaran baru pembicaraan nuklir AS–Iran di Jenewa. Jika negosiasi memanas, permintaan safe-haven bisa cepat balik; jika mereda, sentimen risk-on berpotensi makin dominan dan menahan pemulihan emas. (Asd)
Sumber: Newsmaker.id