Magnet Langka, Drama Tarif Dimulai
Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 200% pada barang-barang Tiongkok jika Beijing “tidak memberi” pasokan magnet tanah jarang ke AS. Ia menyampaikan peringatan itu saat bertemu Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di Gedung Putih, seraya menegaskan “mereka harus memberi kami magnet” dan meyakini masalah ini bisa diselesaikan.
Pernyataan tersebut muncul setelah Tiongkok memperketat kendali atas sektor tanah jarang: memperluas kuota hingga ke bahan impor yang dimurnikan di dalam negeri, serta mewajibkan pelacakan/ pelaporan arus material strategis secara berkala. Langkah ini mempertegas dominasi Tiongkok pada rantai pasok mineral yang krusial bagi magnet berkinerja tinggi di kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga pertahanan.
Trump menambahkan AS punya “daya tawar lebih besar” terhadap Tiongkok dalam isu magnet, bahkan menyebut suku cadang pesawat sebagai kartu negosiasi. Ia juga mengatakan AS bisa membangun pasokan sendiri dalam sekitar satu tahun, meski hal itu akan diuji realitas kapasitas tambang, pemurnian, dan investasi hilir di Amerika.
Bagi pasar, ancaman tarif sebesar itu berisiko memicu ketegangan dagang baru dan gangguan rantai pasok manufaktur global. Investor kini menunggu respons resmi Beijing serta detail kebijakan dari Washington, karena implikasinya bisa merembet ke inflasi, pertumbuhan, dan sentimen risiko lintas kelas aset.
South China Morning Post
Prediksi dampak pasar (jika tarif benar diberlakukan):
Gold (XAUUSD): cenderung naik (risk-off & lindung nilai) karena kekhawatiran perang dagang/ketidakpastian rantai pasok. Kenaikan bisa tertahan jika imbal hasil riil AS ikut naik.
Silver (XAGUSD): campuran — ikut naik sebagai aset safe-haven “beta” terhadap emas, namun sisi industri perak (elektronik/EV) bisa tertekan bila prospek pertumbuhan global melemah.
Oil (WTI/Brent): cenderung tertekan karena kekhawatiran permintaan global melemah di tengah tensi dagang; tambahan tekanan bila USD menguat membuat minyak (berdenominasi dolar) terasa lebih mahal di luar AS.
DXY (Indeks Dolar): berpotensi menguat secara taktis karena aliran safe-haven; namun arah akhirnya bergantung pada ekspektasi kebijakan The Fed—jika pasar menilai tarif memicu inflasi tapi juga menekan pertumbuhan AS, pergerakan DXY bisa volatil/dua arah.(ayu)
Sumber: Newsmaker.id