Trump vs Brasil: Retorika Memanas Saat Aliansi Kiri Berkonsolidasi
Setelah ancaman Donald Trump untuk mengenakan tarif 50% terhadap Brasil, pertemuan puncak para pemimpin kiri berisiko memicu reaksi keras yang lebih luas dari Gedung Putih.
Presiden Chili Gabriel Boric pada hari Senin (21/7) menerima Luiz Inácio Lula da Silva dari Brasil, Gustavo Petro dari Kolombia, Pedro Sánchez dari Spanyol, dan Yamandú Orsi dari Uruguay untuk konferensi satu hari di Santiago. Tujuan pertemuan untuk mendorong multilateralisme dan memerangi disinformasi berisiko memicu reaksi keras dari Trump, yang sebelumnya mengenakan tarif terhadap blok BRICS dari negara-negara pasar berkembang ketika mereka mengkritik pungutannya pada pertemuan terpisah awal bulan ini. Kemudian, ia melampiaskan kemarahannya kepada negara tuan rumah, Brasil.
KTT ini kini memusatkan perhatian pada para pemimpin seperti Boric, yang sejauh ini berhasil menghindari ancaman Trump, serta pemimpin lain seperti Petro, yang sedang menghadapi hubungan yang memburuk dengan AS. Pada 16 Juli, Trump mengatakan akan mengirimkan surat kepada lebih dari 150 negara untuk memberi tahu mereka tentang tarif, yang merupakan tanda terbaru dari strateginya untuk menjadikan perdagangan sebagai senjata. Di saat banyak negara berupaya bekerja sama untuk mengurangi dampak proteksionisme, Trump menunjukkan bahwa ia tidak akan ragu untuk menyerang balik para kritikus.
Pertemuan hari Senin mencerminkan meningkatnya kerja sama di kawasan lain di dunia seperti Uni Eropa, yang sedang bersiap untuk meningkatkan keterlibatan dengan negara-negara seperti Kanada yang telah terdampak tarif dan ultimatum Trump.
Boric membuka KTT dengan seruan untuk membela kebenaran dan sains dari disinformasi dan penyalahgunaan teknologi. Ia juga memperingatkan tentang ancaman yang ditimbulkan oleh ekstremisme politik, ujaran kebencian, pemusatan kekuasaan, dan korupsi. Pertemuan di Chili menandai pertemuan tatap muka formal pertama kelompok tersebut setelah konferensi daring pada Februari tahun ini. Proposal kelompok tersebut akan dipresentasikan dan dikembangkan lebih lanjut pada pertemuan berikutnya di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa bulan September.
“Negara-negara ini tidak mau tunduk dan memberikan konsesi kepada Washington, mengingat pendekatan Washington yang sangat koersif dan menghukum,” kata Kenneth Roberts, seorang profesor ilmu pemerintahan di Universitas Cornell yang berfokus pada politik Amerika Latin. (Arl)
Sumber: Bloomberg