Israel Gempur Ibu Kota Suriah, Beri Sinyal Keras Terhadap Pemerintahnya
Israel mengancam akan meningkatkan serangan terhadap pasukan pemerintah Suriah jika mereka tidak menarik diri dari Sweida, sebuah provinsi di selatan Suriah yang didominasi oleh minoritas Druze.
Pada Rabu, Israel meluncurkan serangan udara mematikan ke ibu kota Suriah, Damaskus, yang merusak kompleks yang menampung kementerian pertahanan dan mengenai area dekat istana kepresidenan, menurut pernyataan militer Israel dan otoritas Suriah. Serangan ini terjadi setelah beberapa hari bentrokan berdarah antara pasukan pemerintah Suriah dan milisi Druze di wilayah Sweida.
Pemerintah Israel, yang berjanji melindungi komunitas Druze, memperingatkan akan memperluas serangan jika pasukan Suriah tidak mundur dari Sweida, wilayah strategis yang berbatasan dengan Israel dan Yordania. Israel sebelumnya menyatakan tidak menginginkan kekuatan musuh beroperasi dekat perbatasannya.
Ketegangan ini mengancam untuk menghentikan langkah-langkah awal menuju pemulihan hubungan antara Israel dan Suriah setelah puluhan tahun permusuhan. Presiden Suriah yang baru, Ahmed al-Shara, mantan pemimpin pemberontak Islamis, mencoba menstabilkan negara setelah menggulingkan Bashar al-Assad pada Desember lalu, dan menjalin hubungan lebih erat dengan Amerika Serikat.
Kekacauan di Sweida dan Tanggapan Internasional
Al-Assad dikenal sebagai sekutu setia Iran dan musuh bebuyutan Israel. Namun, pemberontak yang menggulingkannya telah membuka komunikasi dengan Israel dalam beberapa bulan terakhir melalui mediasi AS. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut kekerasan tersebut sebagai "ancaman langsung terhadap upaya membangun Suriah yang damai dan stabil."
Sweida mengalami kekacauan paling mematikan dalam beberapa waktu terakhir, dengan lebih dari 200 orang tewas dalam empat hari, menurut Syrian Observatory for Human Rights yang berbasis di Inggris. Pemadaman listrik dan internet meluas, rumah sakit kehabisan pasokan, dan banyak warga sipil terjebak di rumah.
Pertempuran bermula saat kelompok bersenjata dari suku Badui menyerang seorang warga Druze pada Minggu. Pemerintah al-Shara mengirim pasukan ke Sweida pada Senin untuk meredakan konflik. Namun, karena ketidakpercayaan mendalam terhadap pemerintah baru, beberapa milisi Druze menduga pasukan Suriah datang untuk membantu Badui, bukan menjaga ketertiban.
Gencatan senjata yang diumumkan pada Selasa pun gagal. Bentrokan kembali terjadi pada Rabu antara pasukan pemerintah dan pejuang Druze.
Serangan Israel dan Dampaknya di Damaskus
Serangan udara Israel di Damaskus menyebabkan kerusakan besar di jantung ibu kota, menurut observatorium, dengan asap tebal membumbung tinggi. Setidaknya satu warga sipil tewas dan 18 lainnya terluka, kata Kementerian Kesehatan Suriah.
Seorang pegawai Kementerian Pertahanan, Abu Musab, menggambarkan kekacauan saat jet tempur Israel menjatuhkan rudal. “Kami masih berada di dalam kementerian ketika serangan pertama terjadi. Lalu disusul serangan kedua. Tak lama kemudian, pesawat kembali dan meluncurkan empat serangan beruntun,” katanya. “Masih ada orang yang terjebak di bawah reruntuhan,” tambahnya.
Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka menargetkan komando staf umum militer Suriah di Damaskus, tempat para komandan mengatur operasi di Sweida. Serangan juga diarahkan ke area dekat istana kepresidenan, dan disebut sebagai upaya mencegah keberadaan pasukan musuh dekat perbatasan serta melindungi warga Druze.
Serangan Israel sebelumnya pada Mei juga menyasar wilayah dekat istana, saat terjadi kekerasan sektarian serupa yang melibatkan komunitas Druze Suriah.
Ketegangan di Perbatasan dan Respons Netanyahu
Kekerasan yang memuncak di selatan Suriah juga memicu kerusuhan di perbatasan dengan wilayah yang dikuasai Israel, saat puluhan warga Druze Israel menyeberang untuk menunjukkan solidaritas. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memperingatkan mereka lewat siaran televisi agar kembali ke wilayah Israel.
“Kami sedang bertindak untuk menyelamatkan saudara-saudara Druze kami dan menghancurkan geng-geng rezim,” ujar Netanyahu. “Tapi saya minta satu hal: Kalian adalah warga Israel. Jangan menyeberang ke Suriah. Itu membahayakan nyawa kalian.”
Tak lama setelah serangan udara Israel, pemerintah Suriah mengumumkan gencatan senjata baru di Sweida, hasil perundingan dengan para pemimpin lokal. Perjanjian tersebut menyerukan penghentian semua operasi militer, pemulihan otoritas negara, dan integrasi penuh wilayah ke dalam negara Suriah.
Tantangan Pemerintahan Baru Suriah
Salah satu tantangan terbesar bagi pemerintahan al-Shara adalah mengendalikan gelombang kekerasan sektarian yang bisa memicu perang sipil baru. Bentrokan di Sweida adalah gelombang besar ketiga sejak jatuhnya rezim Assad.
Pada Maret lalu, kelompok bersenjata eks-pasukan Assad menyerang pasukan pemerintah baru di pesisir Suriah, menyebabkan lebih dari 1.600 orang tewas, sebagian besar dari kelompok Alawite. Pada Mei, lebih dari 39 orang tewas, kebanyakan dari komunitas Druze, dalam kekerasan dua hari di dekat Damaskus.(yds)
Sumber: New York Times