Konflik Timur Tengah Meluas, Lebanon Ikut Terseret
Konflik udara AS–Israel melawan Iran meluas pada Senin (2/3) tanpa sinyal de-eskalasi yang jelas. Israel dilaporkan memperluas operasi ke Lebanon setelah serangan roket/drone dari Hizbullah, sementara Iran meningkatkan intensitas serangan balasan dengan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta sejumlah titik di kawasan Teluk—termasuk pangkalan Inggris di Siprus.
Di Teluk, eskalasi ikut memunculkan insiden “friendly fire” yang jarang terjadi. U.S. Central Command menyebut pertahanan udara Kuwait secara keliru menembak jatuh tiga jet tempur AS F-15E saat gelombang serangan Iran berlangsung. Seluruh enam awak berhasil melontarkan diri, diselamatkan, dan dilaporkan dalam kondisi stabil; investigasi resmi sedang berjalan.
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan gelombang serangan baru pada Senin sore, menegaskan bahwa konflik bergerak ke fase yang lebih luas dan berlapis. Di saat yang sama, serangan lintas-front menambah risiko salah perhitungan (miscalculation) di kawasan, terutama ketika sistem pertahanan udara banyak negara berada dalam status siaga tinggi.
Dampaknya langsung terasa di pasar. Gangguan keamanan kawasan Teluk memicu lonjakan harga energi dan memperburuk kekhawatiran terhadap pemulihan ekonomi global, karena jalur perdagangan dan logistik ikut terdampak oleh meningkatnya risiko keamanan dan pembatasan operasional. Dalam konteks kebijakan luar negeri AS, Presiden Donald Trump menegaskan operasi dapat berlangsung berminggu-minggu dan kembali menyerukan perubahan politik di Iran—sementara dari dalam Iran sendiri, laporan Reuters menggambarkan suasana campuran: arus warga meninggalkan kota-kota besar, di tengah ketidakpastian arah politik setelah serangkaian serangan mematikan.(alg)
Sumber: Newsmaker.id