• Tue, Mar 3, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

11 February 2026 15:54  |

DPR AS Bahas Cabut Tarif Kanada, Tapi Trump Masih Pegang Kendali

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS dijadwalkan menggelar pemungutan suara pada Rabu (11/2) untuk menentukan apakah akan menolak sebagian kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Voting ini terjadi di tengah suhu politik yang memanas menjelang pemilu paruh waktu, ketika isu biaya hidup dan tekanan harga menjadi sorotan utama publik.

Agenda tersebut dipicu oleh kegagalan Ketua DPR Mike Johnson pada Selasa malam untuk menahan langkah pemungutan suara. Johnson, sekutu penting Trump di Kongres, selama berbulan-bulan berupaya menjaga ruang gerak presiden dalam kebijakan tarif dengan mendorong aturan prosedural yang membuat DPR sulit mencabut kewenangan tarif presiden. Upaya terbaru Johnson bertujuan memperpanjang “penguncian” itu hingga akhir Juli.

Namun, manuver penundaan tersebut ditolak oleh kubu Demokrat dan tiga anggota Partai Republik yang memilih menyebrang. Tiga Republikan yang membelot adalah Thomas Massie (Kentucky), Kevin Kiley (California), dan Don Bacon (Nebraska). Sikap mereka memperlihatkan retakan internal Partai Republik ketika tarif mulai dipandang membawa risiko politik di daerah pemilihan masing-masing.

Don Bacon menegaskan Kongres seharusnya bisa berdebat terbuka soal tarif. Ia menilai tarif telah menjadi “negatif bersih” bagi perekonomian dan pada praktiknya berfungsi seperti pajak tambahan yang ditanggung konsumen, produsen, dan petani Amerika. Pernyataan ini memperkuat narasi bahwa kebijakan perdagangan kini beririsan langsung dengan isu keterjangkauan.

Pimpinan Demokrat DPR mengumumkan majelis akan memulai dengan resolusi yang disusun Gregory Meeks (New York) untuk mencabut tarif Trump terhadap Kanada yang diumumkan pada Februari 2025. Demokrat menjadikan tarif sebagai senjata kampanye, menyebut bea masuk berkontribusi terhadap inflasi dan memperburuk krisis biaya hidup.

Di Senat, dinamika serupa sudah terlihat. Sejumlah senator Partai Republik sebelumnya secara terbuka menentang kebijakan tarif tertentu, termasuk dengan meloloskan upaya untuk mengakhiri tarif global darurat serta bea masuk terhadap beberapa negara. Jika DPR mengesahkan langkah sejenis—terutama karena mayoritas Republik di DPR relatif tipis—hasilnya akan menjadi teguran politik yang kuat, meski efeknya bisa lebih simbolis daripada langsung mengubah kebijakan.

Pasalnya, sekalipun DPR menyetujui pencabutan tarif, resolusi bersama tetap harus menjadi undang-undang: ditandatangani presiden atau melampaui veto dengan dukungan dua pertiga suara di kedua kamar. Dengan kata lain, voting Rabu berpotensi menjadi panggung pertarungan politik soal tarif, tetapi belum tentu memaksa Gedung Putih untuk mundur. (Arl)

Sumber : Newsmaker.id

Related News

GLOBAL ECONOMY

Trump Berjanji untuk 'Segera' Bernegosiasi untuk Mengakhiri ...

Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Rabu bahwa ia dan pemimpin Rusia sepakat melalui panggilan telepon untuk "segera"...

13 February 2025 12:25
GLOBAL ECONOMY

Nonfarm Payrolls AS Naik 143.000 Pada Januari Vs. 170.000 Ya...

Nonfarm Payrolls (NFP) di AS naik 143.000 pada Januari, Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan pada hari Jumat. Angk...

7 February 2025 20:40
GLOBAL ECONOMY

Kanada Akan Mengumumkan Tarif Balasan Senilai C$29,8 Miliar ...

Kanada akan mengumumkan tarif balasan senilai C$29,8 miliar terhadap Amerika Serikat pada hari Rabu (12/3) sebagai tanggapan ...

12 March 2025 18:54
GLOBAL ECONOMY

Tiongkok Tegaskan AS Harus Membatalkan Tarif Sebelum Pembica...

Beijing menegaskan kembali seruannya kepada AS untuk membatalkan tarif sepihak terhadap Tiongkok, menggarisbawahi kebuntuan a...

8 May 2025 16:16
BIAS23.com NM23 Ai