Serangan Israel Hantam Gereja di Gaza, Tewaskan 3 Orang
Sebuah serangan militer Israel menghantam Gereja Katolik Holy Family di Gaza City pada Kamis (18/7), menewaskan tiga orang dan melukai sedikitnya enam lainnya, termasuk pastor paroki.
Serangan itu terjadi sekitar pukul 10:10 pagi waktu setempat saat ratusan warga Palestina berlindung di kompleks gereja tersebut.
Belum jelas apakah peluru yang menghantam atap gereja ditembakkan dari tank atau dijatuhkan dari udara.
Setelah insiden itu, Paus Leo XIV segera menyerukan gencatan senjata di Gaza dan menyebut serangan terhadap rumah ibadah sebagai tindakan yang tak bisa dibenarkan.
Sementara Vatikan menyampaikan keprihatinannya atas luka-luka yang dialami Pastor Gabriel Romanelli, yang dikenal rutin memberi laporan langsung ke Paus Fransiskus soal kondisi Gaza. Korban tewas yang diidentifikasi termasuk Saad Salameh (60), petugas kebersihan gereja, Fumayya Ayyad (84), dan Najwa Abu Daoud (71).
Presiden AS Donald Trump dilaporkan telah menelepon Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan menyampaikan reaksi "tidak positif" atas serangan tersebut. Tak lama setelah itu, kantor Netanyahu merilis pernyataan penyesalan dan menyebut bahwa "amunisi nyasar" menghantam gereja.
Militer Israel juga mengatakan bahwa hasil penyelidikan awal menunjukkan fragmen peluru dari operasi militer di wilayah tersebut kemungkinan secara tidak sengaja menghantam gereja.
Sementara itu, perundingan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang didukung AS belum menunjukkan kemajuan. Serangan Israel terus berlanjut dengan dalih menumpas Hamas, sementara kondisi kemanusiaan di Gaza kian memburuk.
Kementerian Kesehatan Gaza menyebut lebih dari 7.750 orang tewas sejak gencatan senjata terakhir runtuh pada Maret, dan total korban sejak perang pecah Oktober 2023 telah melebihi 55.000 orang.
Warga sipil semakin kesulitan mendapatkan makanan, air bersih, dan tempat perlindungan.(yds)
Sumber: New York Times