Data AS Campur Aduk: Ini Kisi-Kisi CPI!
Rangkaian data ekonomi AS semalam memberi gambaran campuran, tapi benang merahnya jelas: ekonomi masih jalan, namun mulai melambat. Investor menyorot data tenaga kerja, belanja ritel, dan PMI, karena semuanya jadi petunjuk penting untuk arah kebijakan The Fed ke depan.
Di sektor tenaga kerja, laporan menunjukkan Non-Farm Payrolls (NFP) November naik 64 ribu, sedikit di atas perkiraan 51 ribu. Namun data bulan sebelumnya tercatat -105 ribu, dan yang paling “nggigit” adalah tingkat pengangguran naik ke 4,6% (lebih tinggi dari prediksi 4,5%). Artinya, walau ada penambahan pekerjaan, pasar kerja tetap terlihat lebih longgar dan tidak sekuat yang terlihat dari angka headline.
Dari sisi inflasi yang sering “nyambung” lewat upah, sinyalnya cenderung mereda. Average Hourly Earnings m/m hanya 0,1%, turun dari 0,4% sebelumnya dan jauh di bawah perkiraan 0,3%. Ini biasanya dibaca sebagai tekanan biaya tenaga kerja yang mulai dingin, sehingga bisa membantu menahan inflasi, terutama di sektor jasa.
Untuk konsumsi, gambarnya dua arah. Retail Sales m/m 0,0% (datar) menunjukkan belanja keseluruhan mulai ngerem. Tapi Core Retail Sales m/m +0,4% lebih kuat dari perkiraan, mengisyaratkan belanja inti masih cukup tahan—jadi permintaan belum “jatuh”, hanya melemah tidak merata.
Di aktivitas bisnis, indikator awal (flash) PMI masih berada di zona ekspansi, tetapi turun dari bulan sebelumnya. Manufacturing PMI 51,8 dan Services PMI 52,9 sama-sama lebih rendah dari data sebelumnya, menandakan ekonomi masih tumbuh, tapi momentumnya melemah. Sementara Business Inventories m/m +0,2% naik di atas perkiraan, yang bisa berarti perusahaan menambah stok—atau bisa juga jadi sinyal stok mulai menumpuk saat demand melambat.
Melihat paket data ini, The Fed kemungkinan membaca situasinya sebagai: ekonomi mendingin perlahan, tekanan upah mereda, tapi konsumsi inti masih bertahan. Karena itu, fokus pasar sekarang pindah ke CPI besok Kamis. Dari kombinasi upah yang melambat dan PMI jasa yang turun, peluang CPI “tidak panas” terlihat cukup besar, namun core retail yang kuat bisa bikin inflasi inti masih “bandel” sedikit. Jadi besok akan jadi penentu: CPI jinak cenderung menguatkan peluang pelonggaran kebijakan, sedangkan CPI panas bisa bikin pasar balik pricing suku bunga lebih ketat.(asd)
Source: Newsmaker.id