
Trending
Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Bandara Internasional King Khalid di Riyadh kembali menjadi sasaran serangan. Serangan terbaru terjadi pada hari Minggu (11 Oktober), ketika sebuah proyektil menghantam area terminal bandara, menewaskan satu orang dan melukai 11 orang lainnya. Otoritas Saudi menyatakan bahwa korban tewas adalah warga negara Pakistan. (Al Jazeera)
Serangan ini terjadi hanya sehari setelah serangan sebelumnya di bandara tersebut yang menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Rangkaian serangan ini dikaitkan dengan kelompok Houthi yang didukung Iran, yang telah meningkatkan serangan mereka terhadap wilayah Saudi dalam beberapa hari terakhir. Bandara Riyadh telah menjadi sasaran berkali-kali dalam waktu kurang dari seminggu, yang menandakan meningkatnya intensitas konflik regional. (Reuters)
Arab Saudi merespons dengan meningkatkan operasi militer terhadap posisi Houthi di Yaman. Eskalasi ini menarik perhatian karena konflik tidak lagi terbatas pada wilayah Yaman; kini konflik tersebut menyasar infrastruktur sipil vital dan fasilitas transportasi milik salah satu produsen minyak terbesar di dunia. Amerika Serikat juga sedang mempertimbangkan keterlibatan lebih dalam dalam operasi Saudi melawan Houthi, sehingga pasar semakin menyoroti risiko konflik yang lebih luas. (The Guardian)
Dari perspektif pasar, perkembangan ini dapat mempertahankan premi risiko geopolitik pada harga minyak, terutama mengingat kemampuan Houthi untuk mengganggu jalur perdagangan energi di Laut Merah dan di sekitar Selat Bab el-Mandeb. Jika eskalasi meluas hingga mengganggu fasilitas energi atau jalur pelayaran minyak, kekhawatiran mengenai pasokan global dapat muncul kembali. Namun, dampak akhirnya terhadap harga minyak akan bergantung pada apakah gangguan tersebut benar-benar memengaruhi aliran fisik minyak.
Newsmaker mengamati bahwa eskalasi di Riyadh dapat memberikan tekanan kenaikan pada harga minyak dengan meningkatkan risiko gangguan terhadap pasokan energi dan jaringan distribusi. Jika harga minyak kembali melonjak, risiko inflasi global dapat meningkat, yang mendorong kenaikan imbal hasil (yield) dan penguatan dolar AS akibat ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi. Namun, emas menghadapi situasi yang lebih kompleks: eskalasi geopolitik dapat mendorong permintaan aset *safe-haven*, sementara kenaikan imbal hasil dan penguatan dolar berpotensi membatasi kenaikan harga emas. Pada akhirnya, arah harga emas akan bergantung pada faktor mana yang lebih dominan permintaan aset safe-haven atau tekanan dari imbal hasil dan dolar.