
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Arab Saudi menghadapi serangan drone dan rudal dari kelompok Houthi Yaman pada Senin. Koalisi militer pimpinan Saudi dilaporkan berupaya mencegat sejumlah proyektil yang diarahkan ke wilayah kerajaan, menyusul rangkaian serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh selama akhir pekan.
Serangan terbaru terjadi setelah sedikitnya 13 orang dilaporkan tewas dalam serangan Houthi terhadap bandara Riyadh pada Sabtu. Otoritas Saudi kemudian mempertahankan penghentian operasional bandara setelah serangan lanjutan kembali dilaporkan pada Minggu. Eskalasi tersebut terjadi menjelang penyelenggaraan WPC Global Energy Congress di Riyadh, yang dihadiri pejabat dan pelaku utama industri energi dunia.
Arab Saudi merespons dengan meningkatkan operasi terhadap posisi Houthi di Yaman. Media yang berafiliasi dengan Houthi melaporkan serangan Saudi terhadap Bandara Sanaa dan sejumlah wilayah lain, meskipun otoritas Riyadh belum memberikan konfirmasi rinci mengenai klaim tersebut. Konflik antara kedua pihak kembali meningkat setelah gencatan senjata yang berlangsung sejak 2022 mulai kehilangan efektivitas.
Di tengah eskalasi, Iran menawarkan diri menjadi mediator antara Arab Saudi dan Houthi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan penyelesaian politik lebih diperlukan dibandingkan pendekatan militer dan menyatakan Teheran siap membantu membuka dialog. Pemerintah Saudi mengonfirmasi adanya komunikasi antara menteri luar negeri kedua negara, tetapi tidak menyebut secara terbuka mengenai tawaran mediasi tersebut.
Konflik semakin menjadi perhatian pasar karena Houthi menguasai wilayah di pesisir Laut Merah yang berdekatan dengan jalur pelayaran strategis dan rute ekspor minyak Saudi. Meningkatnya risiko keamanan bahkan membuat sejumlah eksekutif industri energi internasional dilaporkan membatalkan perjalanan ke Riyadh, menunjukkan bahwa ketegangan mulai berdampak pada aktivitas bisnis dan persepsi risiko kawasan.
Situasi menjadi semakin kompleks karena ketegangan Saudi-Houthi berlangsung bersamaan dengan risiko konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran. Ancaman terhadap infrastruktur energi, jalur pelayaran, hingga fasilitas digital membuat pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan pasokan dan kenaikan premi risiko. Selama konflik belum menunjukkan tanda mereda, harga minyak dan sentimen aset global berpotensi tetap sensitif terhadap setiap perkembangan baru di Timur Tengah.