
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Newsmaker, Jakarta. Harga emas dunia masih tertekan pada perdagangan Kamis, 22 Oktober 2026. Penurunan ini sudah terjadi selama beberapa pekan terakhir. Berdasarkan grafik harian XAU/USD, emas diperdagangkan di sekitar US$4.110,46 per troy ounce atau turun 0,62%. Sebelumnya, harga sempat mencapai US$4.650 pada akhir Agustus. Pelemahan ini menandakan perubahan besar pada sentimen pasar. Emas semakin sulit menjaga momentum kenaikan. Tekanan jual juga terlihat karena harga gagal membentuk puncak baru yang lebih tinggi. Setiap upaya pemulihan tertahan di bawah area resistance sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan penjual masih menguasai pergerakan emas dalam jangka pendek hingga menengah.
Secara fundamental, harga emas turun karena ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat Federal Reserve naik setelah inflasi Amerika Serikat belum turun. Harga minyak dunia melonjak akibat konflik di Timur Tengah, terutama karena ancaman gangguan pasokan di Selat Hormuz. Hal ini menambah kekhawatiran soal kenaikan biaya energi dan inflasi global. Kondisi ini membuat pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober, lalu mungkin menaikkannya lagi di Desember. Survei Reuters menunjukkan mayoritas ekonom memprediksi pengetatan moneter masih berlanjut sampai akhir tahun. Ekspektasi suku bunga tinggi membuat instrumen berbunga seperti obligasi pemerintah AS jadi lebih menarik, sehingga minat pada emas yang tidak memberi bunga berkurang.
Secara teknikal, grafik harian masih menunjukkan tren turun yang kuat. Pola lower high dan lower low muncul setelah emas tidak mampu bertahan di atas US$4.500. Dalam beberapa sesi terakhir, harga bergerak datar di kisaran US$4.100 hingga US$4.200, menandakan fase konsolidasi setelah tekanan jual tajam. Indikator Stochastic RSI dengan pengaturan 3, 3, 14, 14 menunjukkan garis utama di level 59,59 dan garis sinyal di 66,19. Garis utama yang ada di bawah garis sinyal memperlihatkan momentum kenaikan sudah melemah, walaupun indikator belum masuk area oversold. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual bisa berlanjut dan belum ada sinyal pembalikan bullish yang kuat di grafik harian.
Pada perdagangan selanjutnya, area psikologis US$4.100 jadi titik penting untuk arah harga emas. Jika tekanan jual membuat harga turun dan menutup di bawah level ini secara konsisten, penurunan bisa berlanjut ke US$4.050 sampai US$4.000 per troy ounce. Jika pembeli bisa mempertahankan area US$4.100 dan mendorong harga menembus resistance US$4.150, peluang harga pulih ke US$4.200 masih terbuka. Namun, kenaikan ini belum cukup untuk mengubah tren selama emas belum membentuk struktur harga yang lebih tinggi secara berkelanjutan. Pelaku pasar juga perlu memperhatikan pergerakan dolar AS dan imbal hasil Treasury, karena keduanya masih memengaruhi daya tarik emas.
Menurut Newsmaker, emas sekarang tidak hanya mengalami koreksi sementara. Emas sedang menghadapi ujian besar untuk tren jangka menengahnya. Konflik geopolitik yang biasanya mendorong permintaan aset aman, kali ini justru memberi tekanan lewat kenaikan harga minyak, inflasi, dan ekspektasi suku bunga tinggi. Peluang pemulihan masih ada, terutama jika data inflasi AS melambat atau The Fed memberi sinyal kebijakan lebih lunak dari yang diperkirakan. Selama harga berada di bawah US$4.200, tren bearish diperkirakan masih kuat. Level US$4.100 menjadi titik utama yang perlu diperhatikan. Jika harga menembus level itu, tekanan bisa berlanjut. Namun jika harga bertahan, ruang untuk rebound teknikal menjelang keputusan FOMC bisa terbuka.