
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak mentah Brent kembali menunjukkan kekuatan dengan bergerak di sekitar US$109 per barel pada perdagangan Selasa (20/10/2026), setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi lima bulan di US$110,70. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar minyak masih mendapat dukungan dari kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Meskipun harga sempat mengalami koreksi akibat aksi ambil untung, tingginya risiko konflik Timur Tengah membuat tekanan kenaikan belum sepenuhnya mereda. Kondisi tersebut menjadikan kawasan US$109 sebagai area penting untuk menentukan arah pergerakan minyak berikutnya.
Dari sisi fundamental, ketegangan geopolitik menjadi faktor utama yang menjaga harga Brent tetap tinggi. Serangan terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz dan meningkatnya aktivitas kelompok Houthi di Yaman menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur distribusi minyak dunia. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pengiriman energi terpenting karena menghubungkan produsen minyak di kawasan Teluk Persia dengan pasar internasional. Jika gangguan pelayaran semakin meluas, biaya pengangkutan dan asuransi berpotensi meningkat, sehingga harga minyak dapat kembali terdorong naik meskipun produksi belum mengalami penurunan tambahan.
Namun, kenaikan Brent masih menghadapi tekanan dari perkembangan pasokan minyak Rusia. Amerika Serikat membuka peluang pelonggaran sebagian pembatasan perdagangan energi Rusia, yang dapat membantu menambah ketersediaan minyak di pasar internasional. Di sisi lain, aktivitas pengiriman minyak dari Timur Tengah masih berlangsung meskipun belum sepenuhnya pulih. Kondisi ini membuat pasar berada dalam dua tekanan yang berlawanan, yaitu kekhawatiran gangguan pasokan akibat konflik dan harapan bertambahnya suplai. Apabila distribusi minyak semakin lancar, kenaikan Brent berpotensi tertahan meskipun ketegangan geopolitik belum berakhir.
Secara teknikal, Brent sedang berusaha mempertahankan momentum penguatannya setelah bergerak mendekati area US$110 per barel. Kawasan US$110–US$111 menjadi resistance terdekat yang perlu ditembus untuk membuka peluang kenaikan menuju US$113 hingga US$115. Sebaliknya, area US$107–US$108 menjadi support awal yang perlu dipertahankan agar tekanan jual tidak semakin besar. Jika harga turun menembus US$107, potensi koreksi menuju US$105 hingga US$103 dapat meningkat. Level tersebut merupakan proyeksi area harga berdasarkan pergerakan terbaru dan masih membutuhkan konfirmasi dari pola perdagangan serta volume transaksi.
Secara keseluruhan, prospek Brent dalam jangka pendek masih cenderung positif selama harga mampu bertahan di atas US$107 per barel. Risiko gangguan distribusi energi akibat konflik Timur Tengah tetap menjadi faktor utama yang dapat mendorong kenaikan, sementara potensi tambahan pasokan dari Rusia menjadi penghambat penguatan lebih lanjut. Tingginya harga minyak juga berpotensi memperbesar tekanan inflasi global, sehingga dapat memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral dan pertumbuhan ekonomi. Bagi pelaku pasar, kemampuan Brent menembus US$110–US$111 akan menjadi penentu apakah penguatan berlanjut atau harga kembali memasuki fase koreksi.