
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak mentah Brent masih menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, terutama konflik Timur Tengah dan kembali memanasnya perang Rusia-Ukraina. Pada perdagangan Jumat (16/10), Brent bergerak di sekitar US$105,51 per barel, setelah sebelumnya mengalami volatilitas akibat gangguan distribusi energi di Selat Hormuz. Menurut pandangan analisis Newsmaker, tingginya harga minyak saat ini bukan semata-mata disebabkan peningkatan permintaan, melainkan besarnya premi risiko geopolitik yang muncul akibat ancaman terhadap keamanan jalur distribusi dan infrastruktur energi. Selama ketegangan kawasan belum menunjukkan penyelesaian yang konkret, Brent diperkirakan tetap memiliki dukungan fundamental untuk bertahan pada level tinggi.
Dari sisi pasokan, situasi Timur Tengah menjadi faktor paling dominan dalam menentukan pergerakan harga Brent. Serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz serta meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memperbesar kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak internasional. Tekanan tersebut semakin diperkuat oleh keputusan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk melanjutkan serangan terhadap kilang minyak Rusia, yang berpotensi mengganggu ketersediaan produk energi, terutama diesel. Kombinasi kedua konflik ini menciptakan risiko pasokan dari dua kawasan energi strategis dunia. Apabila serangan terhadap fasilitas minyak terus meningkat, pasar berpotensi kembali memperhitungkan risiko kelangkaan pasokan yang lebih besar sehingga membuka peluang penguatan Brent.
Namun, potensi kenaikan harga minyak menghadapi tantangan dari langkah stabilisasi pasokan yang dilakukan International Energy Agency (IEA). Negara-negara anggotanya berkomitmen mempercepat pelepasan sekitar 100 juta barel cadangan minyak darurat yang masih tersisa, termasuk tambahan pasokan diesel, sebagai upaya meredam tekanan harga energi. Pada saat bersamaan, tingginya harga bahan bakar mulai memberikan tekanan terhadap konsumsi global. Perlambatan aktivitas ekonomi dan meningkatnya biaya produksi dapat melemahkan permintaan minyak, terutama dari sektor industri dan transportasi. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun risiko geopolitik masih mendukung penguatan harga, keberlanjutan tren bullish Brent tetap bergantung pada keseimbangan antara gangguan pasokan dan pelemahan permintaan.
Dari perspektif fundamental, penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat sebesar 8,6 juta barel dalam laporan mingguan terbaru memberikan indikasi bahwa kondisi pasokan masih relatif ketat. Berkurangnya stok distilat sebesar 2,5 juta barel turut memperkuat kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan bakar. Dalam analisis Newsmaker, kombinasi rendahnya persediaan, mahalnya biaya pengiriman, dan risiko geopolitik menjadikan Brent rentan mengalami lonjakan harga secara mendadak. Meski demikian, respons pasar terhadap berita geopolitik perlu dicermati secara hati-hati karena penguatan yang terlalu cepat dapat diikuti aksi ambil untung apabila muncul perkembangan diplomatik positif atau peningkatan suplai yang lebih besar dari perkiraan.
Melihat prospek ke depan, Newsmaker menilai pergerakan Brent dalam jangka pendek cenderung berada dalam fase bullish yang disertai volatilitas tinggi, dengan area US$100–US$110 per barel menjadi rentang pemantauan utama. Apabila konflik Timur Tengah meningkat dan gangguan pengiriman minyak kembali meluas, harga berpotensi menembus US$110 dan bergerak menuju US$115–US$120 per barel dalam skenario eskalasi yang lebih berat. Sebaliknya, apabila stabilitas Selat Hormuz membaik, pelepasan cadangan IEA efektif, dan permintaan global melemah, Brent berisiko terkoreksi menuju US$100 bahkan US$95 per barel. Dalam jangka menengah, peluang normalisasi harga tetap terbuka seiring pemulihan pasokan, meskipun proses tersebut kemungkinan berlangsung bertahap. Dengan demikian, arah Brent tidak hanya ditentukan oleh perkembangan perang, tetapi juga kemampuan pasar energi global memulihkan keseimbangan pasokan dan permintaan.