
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak saat ini berada dalam fase yang menarik. Brent bergerak di sekitar US$106 dan WTI sekitar US$93, setelah sebelumnya mencatat kenaikan lebih dari 6% dalam tiga sesi. Secara fundamental, sentimen masih cenderung bullish karena konflik Timur Tengah meningkatkan risiko gangguan pasokan. Namun, setelah kenaikan cukup cepat, pasar mulai membuka peluang terjadinya koreksi jangka pendek.
Dari sisi fundamental, geopolitik masih menjadi mesin utama kenaikan Oil. Serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan meningkatnya risiko terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz membuat pasar memberikan premi risiko tambahan. Selama jalur distribusi energi masih terancam, investor akan cenderung berhati-hati melepas posisi bullish. Masalahnya, jika konflik tidak sampai mengganggu aliran minyak secara signifikan, premi risiko tersebut bisa perlahan berkurang.
Di sisi lain, terdapat faktor yang bisa menjadi rem bagi kenaikan harga, terutama potensi bertambahnya pasokan diesel Rusia dan upaya negara-negara produsen mencari jalur distribusi alternatif. Artinya, pasar saat ini sedang menghadapi dua kekuatan: risiko pasokan yang mendorong harga naik versus tambahan pasokan yang menahan harga. Karena itu, volatilitas Oil kemungkinan masih tinggi dan pergerakannya tidak akan mudah membentuk tren satu arah.
Secara teknikal, area US$100–102 pada Brent menjadi zona penting untuk diperhatikan. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, struktur bullish masih relatif terjaga. Sementara itu, US$107–110 menjadi zona resistance penting. Jika Brent mampu menembus US$110 dengan momentum kuat, peluang kenaikan lanjutan akan semakin terbuka. Sebaliknya, kegagalan menembus resistance dan penurunan di bawah US$100 dapat menjadi sinyal bahwa momentum bullish mulai kehilangan tenaga.
Opinion Newsmaker: untuk saat ini, Oil masih memiliki bias bullish, tetapi bukan berarti aman dari koreksi. Selama konflik Timur Tengah belum mereda, penurunan harga masih berpotensi dianggap sebagai koreksi selama Brent bertahan di atas US$100. Namun, jika ketegangan mereda dan pasokan kembali normal, tekanan jual bisa meningkat. Jadi, US$100 menjadi benteng utama, sementara US$110 menjadi level yang menentukan apakah rally Oil berlanjut atau justru tertahan.