Pasca 5 Hari Lesu, Dolar Rebound; GBP & JPY Rontok
Sterling dan yen Jepang merosot pada hari Selasa (2/9) akibat meningkatnya kecemasan investor terhadap keuangan pemerintah, yang memungkinkan dolar untuk kembali menguat setelah lima hari melemah.
Tekanan baru pada pasar obligasi, dengan biaya pinjaman 30 tahun Inggris naik ke level tertinggi sejak 1998, merembet ke pasar valuta asing, sementara emas mencapai rekor tertinggi baru.
Sterling melemah 1% menjadi $1,3413, level terendah sejak 22 Agustus, sementara dolar menguat 0,6% menjadi 148,07 yen.
Euro menguat terhadap pound sterling dan yen masing-masing sebesar 0,5% dan 0,3%.
Sterling terbebani oleh kekhawatiran yang masih ada mengenai posisi fiskal Inggris menjelang anggaran akhir tahun ini, sementara pernyataan yang cenderung dovish dari seorang pejabat Bank of Japan dan pengunduran diri seorang pejabat penting partai berkuasa menekan yen.
Menteri Keuangan Rachel Reeves diperkirakan akan menaikkan pajak dalam anggaran musim gugurnya agar tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai target fiskalnya, yang berpotensi menambah tantangan untuk mempercepat perekonomian Inggris.
Untuk yen Jepang, meningkatnya ketidakpastian politik kemungkinan akan tetap menjadi hambatan, sementara kurangnya sinyal kebijakan hawkish dari Deputi Gubernur Ryozo Himino pada hari Selasa akan mendorong para spekulan untuk terus membangun kembali posisi short yen, kata Hardman.
Dolar juga mendapat dukungan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS karena investor mencermati data pasar tenaga kerja AS yang akan dirilis minggu ini untuk mendapatkan petunjuk tentang arah suku bunga acuan.
Terhadap sekeranjang mata uang utama, dolar menguat 0,3% ke level 98,1.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS 2 tahun yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga naik 2 bps ke level sekitar 3,6474% setelah mencapai level terendah sejak Mei minggu lalu. Pasar AS ditutup pada hari Senin untuk libur Hari Buruh.
Pasar uang saat ini memperkirakan peluang hampir 90% bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin bulan ini, tetapi prediksi tersebut dapat diuji oleh data ekonomi AS yang akan dirilis minggu ini.
Data yang akan dirilis minggu ini mencakup indeks manajer pembelian manufaktur dan jasa ISM serta laporan penggajian non-pertanian.
Sumber: Reuters