Dolar Naik Tipis, Tapi Sentimen Masih Bearish
Pemulihan dolar AS belakangan ini dinilai tidak akan bertahan lama, menurut survei Reuters terhadap ahli strategi valas. Konsensusnya: dolar bisa stabil sebentar, tapi berisiko kembali melemah lebih luas menjelang akhir 2026 karena pasar masih memegang ekspektasi pemangkasan suku bunga dan kekhawatiran soal independensi Federal Reserve belum hilang.
Di pasar hari Rabu (4/2), indikator dolar kembali menguat tipis. DXY berada di sekitar 97,55 (+0,11%), sementara pasar mencerna data tenaga kerja AS yang melemah—ADP hanya +22 ribu di Januari—yang biasanya bikin ruang untuk narasi “Fed lebih longgar” tetap hidup.
Efek “Warsh nomination” sempat memberi napas ke dolar karena sebagian pelaku pasar menilai Kevin Warsh bisa membuat laju pemangkasan suku bunga tahun ini tidak sedalam kandidat lain. Tapi, Reuters poll menunjukkan mayoritas strategis tetap melihat tren menengahnya condong soft-dollar, dan posisi pasar masih cenderung net-short dolar.
Untuk euro, proyeksi Reuters poll menempatkan EUR/USD cenderung stabil dekat $1,18 dalam jangka pendek, lalu mengarah lebih tinggi di horizon 6–12 bulan (median sekitar $1,20–$1,21). Di pasar spot sendiri, euro terakhir berada di $1,1811.
Sementara itu yen masih jadi pusat volatilitas karena faktor politik. USD/JPY naik dan yen melemah jelang pemilu Jepang akhir pekan ini—Reuters mencatat yen turun ke sekitar 156,80 per dolar (melemah 0,68% pada hari itu), di tengah spekulasi kemenangan kubu PM Sanae Takaichi bisa mendorong agenda belanja/pemotongan pajak yang menekan yen. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id