Dolar Rebound, Tapi 2025 Tetap Di Zona Merah
Dolar AS menguat pada Rabu (31/12) setelah sempat melemah, menyusul rilis data pasar tenaga kerja yang lebih solid dari perkiraan. Walau rebound harian ini cukup menolong sentimen, dolar tetap diprediksi menutup 2025 dengan penurunan tahunan terdalam sejak 2017—tertekan oleh rangkaian pemangkasan suku bunga, kekhawatiran kondisi fiskal, serta arah kebijakan perdagangan AS yang dinilai tidak konsisten di bawah Presiden Donald Trump.
Sejumlah faktor tersebut diperkirakan masih akan membayangi pergerakan pasar valas pada 2026. Jika tekanan berlanjut, pelemahan dolar berpotensi tetap memberi ruang bagi mata uang lain seperti euro dan poundsterling, yang sepanjang 2025 mencatat penguatan cukup besar.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal pengangguran mingguan turun 16.000 menjadi 199.000 (penyesuaian musiman), level terendah dalam satu bulan dan berada di bawah proyeksi konsensus ekonom Reuters sebesar 220.000. Setelah data ini keluar, indeks dolar (DXY) naik 0,27% ke 98,50. Euro turun 0,21% ke $1,1721. Secara year-to-date, dolar turun lebih dari 9% sementara euro menguat lebih dari 13%. Poundsterling pada hari yang sama melemah 0,45% ke $1,3401, namun masih menguat lebih dari 7% sepanjang 2025 terhadap dolar.
Tekanan tambahan untuk dolar datang dari isu independensi Federal Reserve di era Trump, di tengah dorongan pemangkasan suku bunga yang agresif. Trump menyebut akan mengumumkan kandidat ketua The Fed berikutnya sekitar Januari, menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei dan kerap menjadi sasaran kritik. Di sisi lain, sebagian anggota pemungutan suara baru untuk tahun depan mulai menyiratkan keraguan soal kelanjutan pemangkasan suku bunga.
Risalah pertemuan The Fed pada 9–10 Desember menunjukkan keputusan penurunan suku bunga disepakati setelah diskusi yang sangat hati-hati terkait risiko ekonomi AS. Proyeksi terbaru pasca rapat Desember mengindikasikan The Fed hanya memperkirakan satu kali pemotongan suku bunga pada 2026, dengan sinyal bahwa suku bunga bisa ditahan sampai ada bukti inflasi kembali melandai atau pengangguran naik lebih tinggi dari yang diperkirakan. Meski begitu, pasar masih mematok ekspektasi sekitar 50 basis poin pemangkasan tahun depan.
Kondisi ini membuat banyak pelaku pasar di Wall Street memperkirakan dolar berpotensi tetap melemah pada 2026, walau ada pandangan lain seperti kepala strategi FX Societe Generale, Kit Juckes, yang menilai fase akhir penurunan dolar mungkin sudah mulai terbentuk. Di Eropa, mata uang lain juga tampil kuat sepanjang 2025: franc Swiss naik 14% dan krona Swedia melesat 20%.
Sementara itu, yen Jepang termasuk yang tidak banyak diuntungkan dari pelemahan dolar sepanjang 2025. Yen cenderung stabil meski Bank of Japan sudah menaikkan suku bunga dua kali—pada Januari dan awal bulan ini. Pada Rabu, yen melemah 0,34% ke 156,96 per dolar, masih dekat level yang beberapa kali memicu pernyataan dukungan yen dari pejabat Tokyo dan kembali memunculkan spekulasi potensi intervensi. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id