Dolar Siap Akhiri Tren Penurunan 9 Hari; Yen Naik
Dolar AS menguat tipis terhadap sejumlah mata uang pada perdagangan Kamis (4/12), namun masih bergerak dekat posisi terendah lima pekan yang sempat disentuh di awal sesi, seiring pasar bersiap menghadapi kemungkinan pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan depan.
Investor secara luas memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan minggu depan dan akan mencermati sinyal arah kebijakan selanjutnya. Data LSEG menunjukkan pelaku pasar kini memprice hampir 90% peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan tersebut.
“Para trader semakin agresif bertaruh bahwa The Fed akan memangkas suku bunga dan tidak akan menyampaikan pesan yang terlalu hawkish pada pertemuan pekan depan,” kata Karl Schamotta, Chief Market Strategist di Corpay.
Indeks dolar, yang mengukur kinerja dolar AS terhadap enam mata uang utama, naik 0,1% ke level 99,02 dan berada di jalur untuk mengakhiri tren penurunan sembilan hari. Meski demikian, indeks ini masih dekat posisi terendah lima pekan di 98,765 dan sudah turun sekitar 9% sejak awal tahun.
Euro melemah 0,2% ke sekitar $1,1649. Mata uang tunggal Eropa itu tetap mendapat dukungan dari data Rabu lalu yang menunjukkan aktivitas bisnis di zona euro tumbuh pada laju tercepat dalam 30 bulan pada November.
Data AS pada Kamis menunjukkan jumlah klaim awal tunjangan pengangguran turun ke level terendah lebih dari tiga tahun pada pekan lalu, meredakan kekhawatiran akan pelemahan tajam di pasar tenaga kerja. Namun, rilis ini nyaris tidak mengubah ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pekan depan.
Dolar juga tertekan dalam beberapa hari terakhir karena investor menimbang kemungkinan penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed setelah masa jabatannya berakhir pada Mei. Hassett diperkirakan akan mendorong pemangkasan suku bunga yang lebih agresif.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pekan ini bahwa ia akan mengumumkan calon pengganti Powell pada awal tahun depan, memperpanjang proses seleksi yang sudah berjalan berbulan-bulan, meski sebelumnya ia sempat mengklaim sudah menentukan nama.
Langkah menunjuk Hassett dapat menekan dolar, kata para analis. Laporan Financial Times menyebut investor obligasi telah menyampaikan kekhawatiran kepada Departemen Keuangan AS bahwa Hassett bisa mendorong penurunan suku bunga yang agresif demi sejalan dengan preferensi Trump. Meski begitu, investor masih enggan menambah posisi bearish besar terhadap dolar.
Yen Menguat
Yen Jepang menguat sekitar 0,2% ke 155,015 per dolar, mendekati level terkuat sejak 17 November, didukung ekspektasi bahwa Bank of Japan (BoJ) akan menaikkan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini.
Tiga pejabat pemerintah mengatakan kepada Reuters bahwa BoJ kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada Desember, meski arah kebijakan setelah itu masih belum jelas. Pasar saat ini hanya sepenuhnya memperhitungkan satu kenaikan suku bunga lagi tahun depan, dengan sekitar 50% peluang tambahan satu kali kenaikan lagi.
“BoJ yang masih sangat berhati-hati, imbal hasil menarik dari posisi long dolar/yen, dan tekanan kenaikan berkelanjutan pada yield obligasi pemerintah Jepang (JGB) karena potensi ekspansi fiskal, kemungkinan akan terus menekan yen,” kata Chidu Narayanan, Head of Macro Strategy APAC di Wells Fargo.
Poundsterling turun 0,2% ke sekitar $1,3333, namun masih dekat level tertinggi sejak 24 Oktober setelah revisi naik data aktivitas bisnis Inggris memberikan gambaran ekonomi yang lebih positif.
Di pasar kripto, Bitcoin mengambil jeda setelah menguat lebih dari 8% dalam dua sesi sebelumnya, terkoreksi sekitar 1,7% ke kisaran $92.142.(yds)
Sumber: Reuters.com