Dolar Rebound VS Yen; Euro Menguat Pasca Data Inflasi
Dolar AS menguat kembali terhadap yen pada hari Selasa (2/12), pulih dari aksi jual hari Senin, meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pada bulan Desember masih bertahan. Sementara itu, euro menguat tipis setelah data menunjukkan inflasi zona euro sedikit lebih tinggi dari perkiraan.
Mata uang AS sempat kembali tertekan di akhir sesi setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa salah satu kandidat potensial Ketua Federal Reserve (The Fed) hadir dalam sebuah acara di Gedung Putih, saat ia memperkenalkan penasihat ekonomi Kevin Hassett. Sebelumnya pada hari yang sama, Trump menyatakan akan mengumumkan pengganti Jerome Powell sebagai pimpinan The Fed pada awal tahun depan.
Di mata banyak investor, Hassett dipandang sebagai sosok dovish jika ditunjuk menggantikan Powell, sehingga pencalonannya berpotensi menekan kinerja dolar.
Greenback diperdagangkan 0,2% lebih tinggi terhadap yen di level 155,845, setelah pada hari Senin sempat menyentuh level terendah dua pekan. Penurunan sebelumnya terjadi setelah lelang obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun mencatat permintaan terkuat sejak September. “Kita pada dasarnya kembali ke posisi sebelum komentar (Gubernur BoJ Kazuo) Ueda kemarin, yang mungkin agak membingungkan mengingat instrumen swap masih mem-price in sekitar 80% peluang kenaikan suku bunga di Desember,” ujar Michael Brown, Senior Research Strategist di Pepperstone.
Pada hari Senin, pasar saham, obligasi, kripto, dan dolar kompak melemah setelah Ueda mengatakan bank sentral akan mempertimbangkan “pro dan kontra” kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya. Komentar itu mendorong imbal hasil obligasi Jepang tenor dua tahun menembus 1% untuk pertama kalinya sejak 2008 dan memicu efek rambatan ke pasar obligasi global. “Menurut saya, ini menunjukkan bahwa semuanya masih sangat didorong oleh faktor USD.
Tekanan pada dolar yang terlihat kemarin, di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa Hassett akan mendapat kursi Ketua The Fed, kini mulai mereda seiring pelaku pasar kembali fokus pada prospek pertumbuhan AS yang masih solid, meski pemangkasan 25 basis poin pekan depan sudah sangat mungkin terjadi,” kata Brown.
“Ibaratnya, selama tidak ada narasi besar baru, dolar tetap menjadi ‘kemeja paling bersih di keranjang kotor’ dan masih menemukan permintaan yang cukup sehat,” tambahnya. Data pada hari Senin menunjukkan sektor manufaktur AS lebih lemah dari perkiraan, sehingga meningkatkan tekanan pada The Fed untuk memangkas suku bunga bulan ini. Kontrak berjangka Fed funds kini mem-price in peluang 87% untuk pemangkasan 25 basis poin pada pertemuan The Fed 10 Desember, naik dari sekitar 63% sebulan lalu, menurut alat FedWatch dari CME Group.
Fokus ke Inflasi Zona Euro
Euro naik 0,1% ke level US$1,1624 setelah data menunjukkan inflasi di 20 negara pengguna mata uang euro naik menjadi 2,2% pada bulan lalu, dari 2,1% di Oktober. Kenaikan kecil ini dinilai tidak terlalu mengkhawatirkan bagi Bank Sentral Eropa (ECB). Inflasi zona euro kini praktis berada di sekitar target 2% ECB, kata pembuat kebijakan ECB Joachim Nagel dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan hari Selasa.
“Data inflasi ini muncul di saat sebagian pelaku pasar sempat berspekulasi bahwa ECB mungkin masih bisa memangkas suku bunga sekali lagi, meski kemungkinan besar siklus pelonggaran mereka sebenarnya sudah berakhir,” ujar Joshua Mahony, Chief Market Analyst di Scope Markets. Poundsterling bergerak nyaris datar di sekitar US$1,3211, setelah pada hari Senin sempat menyentuh level tertinggi satu bulan.
Bank of England (BoE) memangkas jumlah modal yang harus ditahan perbankan, dalam upaya mendorong penyaluran kredit dan menstimulasi perekonomian. Ini merupakan pertama kalinya persyaratan modal perbankan dipangkas sejak krisis keuangan global.
Di pasar kripto, Bitcoin memimpin penguatan dengan naik sekitar 7% ke US$92.321, menjauh dari level terendah 10 hari yang tercapai pada sesi sebelumnya.(yds)
Source: Reuters.com