Dolar AS Melemah, Apakah Ini Awal Tren Turun yang Lebih Besar?
Indeks dolar AS bertahan di sekitar level 99,4 pada hari Selasa(2/12), setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah dua minggu pada hari Senin. Pelemahan ini muncul karena pasar makin yakin bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Data PMI Manufaktur ISM menunjukkan aktivitas pabrik di AS sudah menyusut selama sembilan bulan berturut-turut dan bahkan di bulan terakhir ini penurunannya adalah yang tercepat dalam empat bulan. Kondisi ini memperkuat pandangan bahwa ekonomi sedang melambat dan butuh dukungan dari sisi kebijakan moneter.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan sekitar 88% peluang bahwa The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan minggu depan. Di tengah situasi ini, muncul kabar politik tambahan: Presiden Donald Trump menyatakan sudah memilih kandidat Ketua Fed berikutnya, dan banyak laporan menyebut nama Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih, sebagai calon terkuat. Pergantian pimpinan Fed berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga ke depan, sehingga ikut diperhatikan pasar.
Fokus utama investor sekarang tertuju pada komentar Ketua Fed Jerome Powell yang akan disampaikan hari ini. Pasar akan mencari isyarat apakah Powell mendukung langkah pemangkasan suku bunga lebih lanjut atau masih ingin berhati-hati. Jika nada Powell terdengar dovish (cenderung mendukung penurunan suku bunga), indeks dolar bisa kembali tertekan. Sebaliknya, jika ia memberi sinyal lebih hati-hati, pelemahan dolar mungkin sedikit tertahan, meskipun tekanan dari data ekonomi yang lemah tetap membayangi. (az)
Sumber: Newsmaker.id