• Fri, Jan 16, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Indonesia News Portal for Traders | Financial & Business Updates

27 November 2025 15:52  |

Dolar Menuju Pelemahan Mingguan Terbesar Dalam Empat Bulan

Dolar AS bergerak melemah menuju penurunan mingguan terbesar dalam empat bulan pada hari Kamis (27/11), di tengah tipisnya aktivitas perdagangan menjelang libur Thanksgiving di AS. Kondisi ini membuat pelaku pasar mulai memikirkan prospek tahun depan, di mana AS terlihat semakin “sendirian” dalam tren pemangkasan suku bunga.

Yen Jepang menguat 0,2% ke level 156,11 per dolar pada sesi Asia, didukung perubahan nada yang lebih hawkish dari pejabat Bank of Japan.

Pasar keuangan AS tutup karena libur Thanksgiving, sehingga likuiditas menipis dan pergerakan di pasar valas menjadi lebih mudah berfluktuasi.

“Itu bisa menjadi lingkungan yang menarik bagi otoritas Jepang untuk melakukan intervensi di dolar/yen,” kata Francesco Pesole, ahli strategi valas di ING.

“Namun, mungkin masih ada kecenderungan untuk intervensi setelah rilis data yang negatif bagi dolar, dan jedanya pergerakan pasangan ini bisa mengurangi rasa urgensi,” tambahnya.

Euro melemah 0,05% ke level $1,1590, setelah sempat menyentuh level tertinggi 1,5 minggu di $1,1613 pada sesi sebelumnya.

Pasar juga memantau negosiasi terkait kemungkinan kesepakatan damai Ukraina, yang berpotensi mengangkat mata uang tunggal tersebut.

Utusan AS Steve Witkoff diperkirakan akan pergi ke Moskow pekan depan untuk melakukan pembicaraan dengan para pemimpin Rusia, namun seorang diplomat senior Rusia pada Rabu mengatakan bahwa Rusia tidak akan memberikan konsesi besar.

Dolar Selandia Baru (kiwi) kembali menguat ke level tertinggi tiga minggu di $0,5728 dan sudah naik sekitar 2% sejak perubahan sikap yang lebih hawkish dari bank sentral sehari sebelumnya.

Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) memangkas suku bunga pada Rabu, namun menyebut opsi menahan suku bunga juga sempat dibahas dan menandai bahwa siklus pelonggaran kemungkinan sudah selesai. Didukung data ekonomi yang kuat pada Kamis, pasar kini melihat peluang suku bunga bisa naik lagi dan memproyeksikan kenaikan pada Desember 2026.

Hal ini kontras dengan ekspektasi terhadap Federal Reserve AS, di mana pasar memproyeksikan lebih dari 90 basis poin pemangkasan suku bunga antara sekarang hingga akhir tahun depan.

Data menunjukkan penjualan ritel Selandia Baru naik pada kuartal ketiga, sementara kepercayaan bisnis melonjak ke level tertinggi dalam satu tahun.

“Kondisi hijau di ekonomi Selandia Baru (kiwi green shoots) benar-benar mulai tumbuh cepat sekarang,” kata ahli strategi Westpac, Imre Speizer.

Dolar Australia sebagai “yielder”

Dolar Australia juga menguat setelah data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan pada Rabu menambah keyakinan bahwa siklus pemangkasan suku bunga di sana juga sudah berakhir.

Imbal hasil obligasi Australia tenor 3 tahun dan 10 tahun masing-masing berada di 3,86% dan 4,5%, tertinggi di antara negara-negara G10. Analis menilai hal ini membuat mata uang Australia terlihat “murah”.

Pada level $0,6536, Aussie berada di tengah-tengah rentang (channel) perdagangan yang sudah bertahan sekitar 18 bulan. Namun Kit Juckes dari Societe Generale mencatat bahwa pergerakan Aussie belakangan ini lebih mengikuti yuan China daripada perbedaan suku bunga, yang bisa mendukung penguatan lanjutan karena yuan menguat tajam dalam beberapa sesi terakhir.

Dorongan dari mekanisme penetapan kurs (fixing) bank sentral China membantu menstabilkan yuan di sekitar 7,08 per dolar pada Kamis.

Poundsterling juga menguat ke level tertinggi sejak akhir Oktober di $1,3265 dan menuju kenaikan mingguan terbesar sejak Agustus, setelah anggaran Inggris meredakan sebagian kekhawatiran mengenai kondisi keuangan negara tersebut.

Dolar Melemah

Indeks dolar AS naik tipis 0,1% ke 99,62, namun masih jauh di bawah level tertinggi enam bulan yang disentuh pekan lalu, dan kini mengarah ke penurunan mingguan terbesar sejak Juli.

“Pasar sebentar lagi akan mulai memikirkan ‘big trades’ untuk 2026, dan gue sangat ragu kalau posisi ‘long USD’ masih akan jadi salah satunya,” kata Presiden Spectra Markets, Brent Donnelly.

Ia mengatakan, jika penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett — yang dikenal sebagai pendukung pemangkasan suku bunga — ditunjuk sebagai Ketua The Fed berikutnya, hal itu bisa menjadi pemicu negatif bagi dolar.

“Begitu kita melewati hari Jumat, permintaan dolar dari korporasi dan institusi besar (real money) sebagian besar sudah selesai.”(yds)

Sumber: Reuters.com

 

Related News

US DOLLAR

Dollar Sedikit Melemah Setelah Pulih

Dolar memangkas kenaikan hari Senin (12/05), dengan para pedagang tidak yakin bahwa lonjakannya baru-baru ini di balik mereda...

13 May 2025 15:52
US DOLLAR

Dolar AS Tutup Tahun Terbaik Sejak 2015 dengan Bias Bullish

Dolar membukukan penurunan moderat pada hari terakhir tahun ini, yang terbaik dalam hampir satu dekade, karena opsi jangka pa...

31 December 2024 17:05
US DOLLAR

Dolar Terus Turun

Indeks dolar jatuh ke 100,3 pada hari Rabu (14/5), semakin merosot dari level tertinggi satu bulan yang dicapai pada hari Sen...

14 May 2025 17:16
US DOLLAR

Dolar Mengakhiri Penurunan Tiga Hari Jelang Data Penggajian ...

Dolar menguat setelah tiga hari melemah karena para pedagang menunggu data pekerjaan AS untuk mengukur prospek pelonggaran ke...

7 February 2025 13:14
BIAS23.com NM23 Ai