Perak Dekati $49: Breakout?
Perak di sesi Eropa pada hari Kamis (6/11), cenderung bergerak hati-hati meski mengalami kenaikan lebih dari 1% mendekati $49 troy ons seiring pasar menilai dua penarik arah utama: arah dolar AS dan prospek suku bunga The Fed. Nada kebijakan yang masih condong “lebih tinggi lebih lama” menahan selera beli di logam mulia, karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil meningkat. Namun pelemahan sesekali pada dolar memberi ruang napas untuk bounce intraday, apalagi ketika selera risiko global goyah dan investor melirik safe haven berbasis logam.
Dari sisi fundamental riil, narasi permintaan industri tetap menjadi bantalan jangka menengah bagi perak—terutama dari rantai listrik tenaga surya, elektronik, hingga kendaraan listrik. Sentimen terhadap Tiongkok dan Eropa ikut memengaruhi: tanda-tanda stabilisasi aktivitas manufaktur atau isyarat stimulus tambahan biasanya menopang logam putih ini, sementara sinyal pelemahan permintaan ekspor bisa menekan. Di sisi pasokan, kabar produksi dari produsen besar di Amerika Latin serta dinamika stok bursa logam internasional akan terus dipantau untuk mengukur ketat-longgarnya pasar.
Ke depan, pelaku pasar menunggu isyarat berikutnya dari komentar pejabat bank sentral, arah imbal hasil obligasi AS, dan rilis data aktivitas jasa/tenaga kerja AS yang masih menjadi kompas ekspektasi suku bunga. Selama ketidakpastian ini bertahan, perak berisiko tetap berkonsolidasi—dengan potensi penguatan bila dolar melemah dan headline pertumbuhan industri membaik, serta rawan terkoreksi jika narasi suku bunga tinggi dan dolar kuat kembali dominan. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id