CPI Jinak, Emas Kepleset dari $4.600
Harga emas (XAU/USD) melemah tipis pada Selasa (13/1) setelah rilis data inflasi AS bulan Desember menunjukkan tekanan harga mulai lebih terkendali.
Emas diperdagangkan di sekitar $4.590 per troy ounce, turun 0,15%, setelah sempat mencetak rekor baru di $4.634 pada sesi yang sama.
Data inflasi yang lebih jinak memperkuat pandangan bahwa ruang pemangkasan suku bunga The Fed masih terbuka di tahun ini. Namun, pergerakan emas tertahan karena dolar AS bertahan stabil, membuat kenaikan logam mulia jadi tidak leluasa. BLS mencatat inflasi utama dan inflasi inti relatif stabil dibanding bulan sebelumnya, memberi sinyal bahwa tren pendinginan masih berjalan.
Dari sisi data lain, pasar menilai kondisi tenaga kerja menunjukkan perbaikan, sementara komentar pejabat The Fed—termasuk Presiden Fed St. Louis Alberto Musalem—terdengar netral cenderung tegas, menjaga pasar tetap berhati-hati dalam mengunci ekspektasi penurunan suku bunga terlalu cepat.
Meski pasar keuangan masih memperkirakan peluang pelonggaran kebijakan hingga sekitar 50 bps sampai akhir tahun, isu politik seputar tekanan terhadap independensi The Fed ikut menambah “noise” dan membuat pelaku pasar lebih waspada.
Di luar data, emas tetap mendapat bantalan dari faktor geopolitik. Kekhawatiran terhadap independensi bank sentral AS dan memanasnya ketegangan Timur Tengah menjaga permintaan safe haven tetap hidup.
Trump juga mengumumkan rencana tarif 25% terhadap negara yang berbisnis dengan Iran, yang berpotensi menambah tekanan pada peta perdagangan global.
Selanjutnya, pasar akan memantau rilis data lanjutan AS seperti PPI, penjualan ritel, serta serangkaian pidato pejabat The Fed untuk membaca arah dolar, yield, dan langkah emas berikutnya.(yds)
Sumber: Newsmaker.id